Kompas.com - 28/05/2018, 14:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemasangan kawat gigi atau yang lebih dikenal dengan 'behel'  untuk meratakan susunan gigi selama ini dianggap tidak boleh dilakukan anak-anak.

Kawat gigi biasanya hanya boleh dilakukan oleh remaja atau menunggu sampai gigi dewasa sudah tumbuh semuanya.

Ternyata, anggapan tersebut salah. "Pemahaman yang salah kalau ortodonti menunggu gigi tetap sudah ganti semua," kata dokter spesialis ortodonti Nada Ismah saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia mencontohkan kasus gigi berantakan, gingsul, atau "cameuh" (gigi atas di belakang gigi bawah). Masalah tersebut sebaiknya tak dibiarkan karena dikhawatirkan penanganannya justru terlambat jika menunggu semua gigi dewasa tumbuh.

Misalnya, anak usia di bawah 10 tahun sudah menunjukkan pertumbuhan gigi yang salah. Pada masa tersebut anak sudah bisa diajak ke dokter gigi untuk berkonsultasi.

Sebab, gigi yang berantakan juga bisa menghambat pertumbuhan gigi dewasa.

Baca juga: Akibatnya jika Pakai Kawat Gigi Hanya untuk Gaya

"Jangan sampai gigi baru malah enggak punya tempat untuk tumbuh. Kita sebut early orthodontic treatment untuk mencegah keparahan yang lebih parah lagi," tutur dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia,

Namun, Nada menyarankan untuk berkonsultasi pada dokter spesialis ortho, bukan pada dokter umum atau bahkan tukang gigi. Sebab, dokter spesialis ortho memiliki pengalaman lebih mendalam soal pemasangan kawat gigi.

Datang ke tempat yang salah justru bisa membuat masalah gigi yang ada menjadi lebih parah.

Walau demikian, beberapa kasus gigi tidak rata belum tentu bisa diselesaikan dengan pemasangan kawat gigi. Misalnya, kondisi rahang yang membuat posisi gigi menjadi tonggos atau "cameuh" namun karena faktor keturunan.

Baca juga: Awas, Kebiasaan Buruk Bisa Bikin Gigi Anak Tonggos

Pemasangan kawat gigi pun bermacam-macam. Selain kawat gigi permanen, ada pula kawat gigi lepasan. Perawatan yang diberikan baru dapat diputuskan setelah melalui tahapan panjang, mulai dari diskusi dokter dengan pasien.

"Nanti ada indikasi kapan dan kondisi seperti apa gigi bisa dilakukan perawatan dengan alat yang tepat," ucap Nada.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.