Menantu Harus Tahu, Ini Tips Atasi Persoalan dengan Mertua

Kompas.com - 04/10/2018, 12:42 WIB
.THINKSTOCK .

JAKARTA, KOMPAS.com —  Media massa dan jejaring media sosial sejak kemarin diramaikan dengan kabar soal aktivis Ratna Sarumpaet yang mengaku berbohong tentang cerita penganiayaan yang dialaminya.

Berbagai tanda pagar (tagar) kemudian membanjiri media sosial.

Salah satunya adalah tagar #2019gantimertua yang ditulis oleh banyak warganet, sebagai bentuk simpati terhadap aktor Rio Dewanto yang adalah menantu Ratna.

Terlepas dari kasus Ratna, kita memang sering mendengar adanya hubungan menantu- mertua yang tak berjalan dengan baik.

Tentu saja, ada banyak faktor yang melatarbelakangi kondisi itu.

Namun, apa yang harus dilakukan oleh seorang menantu ketika memiliki mertua yang mempunyai pandangan yang berbeda?

Konselor pernikahan dari www.konselingkeluarga.com, Elly Nagasaputra, menjelaskan tentang kondisi ini.

Baca juga: Atasi Gugup Saat Pertama Berkenalan dengan Calon Mertua

Dia menyebut, hubungan menantu dan mertua yang tidak akur sebetulnya lebih sering dialami oleh menantu perempuan dan mertua perempuan.

Sementara gender silang lebih jarang terjadi.

"Kalau silang biasanya enggak masalah. Mungkin bisa dikatakan kalau ada 100 pernikahan, 90 di antaranya enggak cocok menantu perempuan dan mertua perempuan," kata Elly saat dihubungi, Kamis (4/10/2018).

1. Beda kepribadian

Ada banyak faktor mengapa menantu dan mertua kerap tidak akur. Salah satunya karena faktor kepribadian, baik menantu maupun mertua.

Tak jarang dua pihak tersebut pun memiliki pola pikir yang berbeda.

Hal ini berimbas pada hal lainnya, seperti perbedaan mencari solusi masalah, perbedaan mengatur rumah, dan sebagainya.

"Ketika menikah, kan, kita enggak pilih mertua, jadi mungkin dapat mertua yang kepribadiannya beda banget, pola pikir beda banget, cara memandang masalah beda banget," ujar dia.

"Perbedaan itu akhirnya menimbulkan friksi," sambung dia.

Perbedaan pola pikir sebetulnya wajar terjadi. Apalagi, menantu dan mertua awalnya berasal dari keluarga yang berbeda bahkan lahir pada era yang berbeda.

2. Belum siap melepas anaknya

Friksi juga bisa terjadi karena orangtua secara psikologis, mental dan emosional belum siap melepas anak perempuan atau laki-lakinya menikah.

Mungkin pula ada perasaan belum bisa menerima menantu tersebut.

"Ada rasa ketidakrelaan melepas atau merasa ketidaklayakan mendapat mantu yang mungkin standarnya tidak seperti dia sehingga ada kekecewaan terpendam dan menimbulkan konflik," tutur Elly.

3. Tinggal satu atap

Faktor ini sering kali menjadi faktor utama pergesekan antara menantu dan mertua. Terutama terjadi pada menantu perempuan dan mertua perempuan.

Elly menjelaskan, hal ini disebabkan faktor teritorial. Perempuan sering kali merasa bahwa rumah adalah teritorialnya.

Oleh karena itu, jika menantu perempuan dan mertua perempuan tinggal bersama, keduanya akan cenderung merasa sebagai nyonya di rumah tersebut.

"Masing-masing merasa jadi nyonyanya dan berhak ngatur," kata Elly.

Baca juga: Menantu Donald Trump Pilih ?Sneakers? Senilai Rp 6 Juta

Menghadapi mertua beda pandangan

Tidak tinggal satu atap menjadi solusi awal menghindari friksi antara menantu dan mertua.

Pasangan yang telah menikah dan berkeluarga harus belajar mandiri dan tidak lagi tinggal bersama orangtua.

Ketika tinggal satu atap, friksi menjadi tak terhindarkan.

"Bagaimana pun usahakan mandiri. Jika belum bisa punya rumah mandiri, enggak apa-apa ngontrak, ngekos. Tapi harus pisah," ujar Elly.

Namun, ketika kita terpaksa harus menghadapi mertua yang mempunyai perbedaan pola pikir, kita harus memahami bahwa perbedaan itu memang ada.

Jadi, tak perlu memaksakan segalanya agar sama dengan yang kita inginkan. Sebab, memaksakan kehendak hanya akan menimbulkan kekecewaan.

Baca juga: Hindari Konflik dengan Mertua, Ini Kiat Jadi Menantu Idaman

"Jangan berusaha harus sama. Umur saja sudah beda, pola pikir jauh. Jadi harus menerima perbedaan itu ada," tutur Elly lagi.

Terakhir, seperti apa pun mertua kita, kita harus tetap menaruh hormat kepada mereka.

Sebab, orangtua tetaplah seseorang yang lebih tua, dan harus dihormati meski ada sejumlah perbedaan.

"Kita adalah orang Timur, suka enggak suka harus tetap hormat sama orangtua. Enggak bisa ngeyel," tutup Elly.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X