Kompas.com - 12/09/2019, 21:35 WIB
Ilustrasi sampah plastik Dok. EcotonIlustrasi sampah plastik

JAKARTA, KOMPAS.com – Seiring dengan peningkatan konsumsi rumah tangga dan kegiatan sektor bisnis di Indonesia, penanganan sampah menjadi tantangan tersendiri.

Tahun ini, Indonesia menghasilkan 67 juta ton sampah, jumlah tersebut lebih tinggi dari rata-rata 64 juta ton per tahun dengan komposisi sampah organik, 70 persen; sampah plastik yang sumber utamanya berasal dari kemasan makan minuman, kemasan consumer goods, kantung belanja dan pembungkus barang lainnya, 20 persen; dan sampah industri lainnya seperti kaca, metal, karet, 10 persen.

Melihat dampak lingkungan dan sosial yang terjadi akibat sampah, pemerintah menargetkan untuk melakukan 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan sampah pada 2025.

Kendati demikian, hingga saat ini kebijakan pengolahan sampah TPS3R yang dicanangkan oleh pemerintah masih mengalami kendala, karena belum sepenuhnya menjalankan mekanisme pemilahan sampah sejak dari sumbernya dengan melibatkan semua pihak.

Baca juga: Menilik Permasalahan Sampah Plastik yang Semakin Pelik

Sektor swasta, melalui Asosiasi Kemasan dan Daur Ulang Untuk Lingkungan Berkelanjutan di Indonesia (PRAISE) mendorong pemerintah untuk mengimplementasikan sistem penanganan sampah yang efektif dengan melibatkan Extended Stakeholder Responsibility (ESR) dengan menggunakan sistem ekonomi sirkular.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Ilustrasi ekonomi sirkularBsWei/Shutterstock Ilustrasi ekonomi sirkular

Dalam prinsip tersebut, kepada Kompas.com, perwakilan PRAISE Sinta, turut meningkatkan keterlibatan komunitas untuk pemilahan sampah, serta memanfaatkan sampah kemasan yang bisa digunakan kembali (reuse) oleh industri.

PRAISE merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak, dan Unilever.

Metode ekonomi sirkular bisa memungkinkan sampah kemasan memiliki daya guna dan nilai ekonomis.

Berdasarkan laporan dari Ellen MacArthur, tanpa pemahaman ekonomi sirkular, 95 persen nilai ekonomis bahan kemasan termasuk plastik sekali pakai akan hilang.

Baca juga: Usulan Bayar Iuran Sesuai Jumlah Sampah yang Dibuang, Setuju?

Sebaliknya dengan landasan ekonomi sirkular, 53 persen sampah di Eropa, bisa didaur ulang dan menghasilkan uang.

Namun, ekonomi sirkular akan bisa berjalan baik dengan menggunakan pedekatan ESR yang mendorong kolaborasi semua pihak baik itu rumah tangga, komunitas, pemerintah dan swasta.

Sirkular ekonomi melalui program Desa Kedas

Di Indonesia, usaha daur ulang adalah salah satu wujud sirkular ekonomi secara bertanggung jawab.

Namun, usaha daur ulang tersebut akan mengalami kendala tanpa proses pemilihan sampah yang benar.

PRAISE menginisiasi program Bali Bersih untuk membangun program komunitas berkelanjutan dalam rangka membantu lingkungan dan perkotaan mengatasi permasalahan sampah kemasan yang dihadapi melalui ekonomi sirkular.

Dalam melaksanakan program ini, asosiasi tersebut bekerjasama dengan Mckinsey.org yang menjadikan Desa Kedas (Desa Bersih) di Bali sebagai proyek percontohan Bali Bersih.

Baca juga: Sampah Jakarta 2 Hari Sebesar Candi Borobudur, Kita Bisa Bantu Apa?

 

Pemaparan pengelolaan sampah ekonomi sirkularPRAISE Pemaparan pengelolaan sampah ekonomi sirkular

Proyek Desa Kedas bertujuan untuk mendemonstrasikan sistem daur ulang yang memiliki nilai ekonomi dari material yang saat ini disebut sampah, menjadi sistem yang berkelanjutan yang bisa mendatangkan kesempatan ekonomi bagi komunitas.

Global Executive Director, Sustainable Communities at McKinsey.org, Shannon Bouton mengungkapkan, solusi bagi persoalan sampah di Indonesia dapat dimulai dari perbaikan sistem pengangkutan sampah dan pengembangan pasar daur ulang.

Ia melanjutkan, bahan daur ulang yang sudah dikumpulkan perlu sebanyak mungkin kembali digunakan untuk tujuan produktif—plastik, sampah organik, dan bahan lainnya yang memiliki nilai jual.

“Kami percaya bahwa pemberdayaan masyarakat, pemerintah yang inovatif dan komitmen dari para perusahaan, dapat bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah dan daur ulang yang benar-benar berjalan optimal,” kata Bouton.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Solusi Baru untuk Sampah Plastik

Sementara itu, Ketua BPD Desa Sanur Kauh I Gusti Made Gede mengatakan, sebelum mengikuti program Desa Kedas, sistem TPS3R yang ada belum berjalan dengan baik. Operasional TPS3R di desa pun terhambat dan secara ekonomi tidak stabil.

Setelah enam bulan program ini berjalan, kian banyak warga yang memilah sampah dari rumah.

“TPS3R di Sanur Kauh secara konsisten mendatangkan keuntungan bukan hanya secara ekonomi, namun juga memiliki sistem kerja yang baik dan para pekerja yang terlatih,” katanya.

Menurut Sinta, program Bali Bersih bisa menjadi percontohan intervensi untuk peningkatan dari TPS3R serta TPS di Indonesia dalam pengelolaan sampah yang lebih baik.

“Kami berharap berjalannya program ini bisa memberikan pandangan baru bagi masyarakat dalam hal kemasan pasca konsumsi yang bisa memiliki nilai ekonomi apabila bisa dikelola dengan baik,” katanya.

Baca juga: Jangan Sembarangan Buang Sampah Kemasan Skincare



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.