Pernikahan Dini Diprediksi Meningkat Setelah Pandemi

Kompas.com - 17/05/2020, 10:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockIlustrasi

KOMPAS.com – Tekanan ekonomi gara-gara pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat jutaan anak perempuan terancam dinikahkan dini oleh orangtuanya dalam dua tahun ke depan.

Pandemi telah menyebabkan banyak orang di dunia kehilangan pekerjaan sehingga banyak keluarga jatuh miskin. Selain itu, ditambah dengan faktor putus sekolah, membuat orangtua, khususnya dari keluarga miskin, menikahkan dini anak-anak mereka.

“Ketika terjadi krisis, seperti perang, bencana alam, atau pun pandemi, angka pernikahan dini apda anak-anak meningkat,” kata pakar pernikahan anak dari lembaga amal World Vision, Erica Hall, seperti dikutip dari Reuters.

Dalam laporannya, World Vision memprediksi setidaknya akan ada empat juta pernikahan anak dalam dua tahun ke depan. Dibutuhkan usaha sampai satu dekade untuk mengakhiri praktik pernikahan anak.

“Jika kita tidak mulai memikirkan cara mencegahnya sekarang, akan terlambat. Kita tidak bisa menunggu sampai krisis kesehatan ini berlalu,” kata Hall.

Risiko tersebut juga diperburuk dengan ditutupnya sekolah sampai waktu yang belum ditentukan, sehingga sulit menyebarkan edukasi tentang pernikahan anak.

Baca juga: Bocah 10 Tahun Dipaksa Menikah, Pernikahan Dini Simpan Banyak Kerugian

Banyak orangtua mungkin akan menikahkan anak perempuannya demi mengurangi jumlah anak di rumah yang harus ditanggung.

“Perkawinan pada anak ini merupakan strategi bertahan hidup. Bukan berarti orangtuanya kejam, tapi kerena mereka tidak punya pilihan lain selain bertahan hidup,” ujarnya.

Masa pandemi ini juga menyulitkan anak perempuan mengakses layanan kesehatan reproduksi sehingga risiko kehamilan remaja meningkat dan tekanan dari orangtua untuk menikah ikut meningkat.

Di seluruh dunia setiap tahunnya diperkirakan ada 12 juta anak perempuan berusia di bawah 18 tahun dinikahkan dini.

Jaringan organisasi yang memperjuangkan penghentian pernikahan anak, Girls Not Bride, menyebutkan, kasus perkawinan anak banyak ditemui di India, Afrika, dan Amerika Latin.

Selama ini sekolah bisa melindungi anak-anak perempuan dari tekanan menikah, namun sekarang ini sebagian besar sekolah masih ditutup untuk mencegah penularan Covid-19.

“Bahkan setelah pandemi, sepertinya banyak anak perempuan tak akan kembali ke sekolah. Kita harus memastikan mereka sekolah lagi,” kata kepala organisasi Girls Not Brides Faith Mwangi-Powell.

Baca juga: Ini Akibat yang Terjadi dari Pernikahan Dini...



Sumber Reuters
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X