Kompas.com - 29/07/2020, 16:00 WIB

Ternyata, hidup di kota tidaklah mudah. Untuk menyambung hidup, siang hari ia mengamen di bus Damri ekonomi dan malamnya menjadi tukang parkir.

Ngamen di bus. Dari halte ke halte. Kalau malam iseng jadi tukang parkir di Jalan Merdeka, pernah juga markir di Blok M Jakarta."

"Tidur juga di halte, dimana saja, yang penting bisa tidur,” ucap dia.

Di tengah kerasnya hidup di jalanan, ia tetap melanjutkan sekolahnya. Ia mengikuti ujian persamaan SMA di Gelanggang Generasi Muda (GGM) Bandung.

Ia belajar, berteman, aktif di GGM, hingga bisa tinggal di sana. Gally pun tergabung dalam Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ).

Tanpa sadar, Gally mencintai jalanan, menyukai kehidupan kaum marjinal. Ia belajar banyak hal dari kerasnya hidup di jalanan.

Baca juga: Sepatu Bandung FTW Exodos57 Ajak Biker Tampil Stylish

“Di jalanan itu harus pintar. Kalau bodoh, kamu akan tertindas,” tutur dia.

Sepatu

Hingga suatu hari, pria kelahiran 14 Agustus 1982 ini merasa ingin berbuat lebih dari apa yang dilakukannya, dan menjadi berkat buat banyak orang.

Ia sempat berjualan kaus, dan kemudian gagal. Lalu, karena menyukai sepatu, tahun 2010 ia mencoba membuat sepatu di Cibaduyut, Bandung.

Setahun kemudian, 2011, dengan modal nyali dan kemauan yang kuat ia berbisnis sepatu. Awalnya ia membuat sepatu perempuan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.