Memahami Cara Otak Memproses Rasa Lelah

Kompas.com - 18/09/2020, 16:40 WIB
Ilustrasi diamond push up shutterstockIlustrasi diamond push up

KOMPAS.com - Olahraga di luar rumah seperti berlari, bersepeda untuk waktu lama, atau melakukan push up dengan beberapa kali pengulangan, bisa membuat tubuh kita merasa lelah. Namun, setengah dari rasa lelah itu bisa jadi ada di kepala kita.

Temuan studi terbaru menguatkan studi sebelumnya yang menunjukkan di saat orang sedang lelah, aktivitas korteks motorik menurun, sehingga lebih sedikit sinyal yang dikirim ke otot, menyebabkan pengurangan tenaga selama berolahraga.

Mengetahui cara otak memproses rasa lelah dapat menjadi terapi bagi kita untuk meningkatkan performa saat berolahraga.

Bisakah temuan ini menjadi acuan para peneliti untuk melakukan sesuatu pada korteks motorik seseorang agar orang tersebut tidak mengalami kelelahan? Jawabannya belum tentu.

“Sepertinya kami bisa saja menggunakan stimulasi otak non-invasif untuk membuat aktivitas korteks motorik selaras dengan ekspektasi performa seseorang," kata Vikram Chib, Ph.D, asisten profesor teknik biomedis di Johns Hopkins University School of Medicine yang melakukan riset.

"Hal lain yang mungkin dapat kami lakukan adalah mengenalkan strategi kognitif untuk membuat orang mengubah cara mereka berusaha."

Baca juga: Minum Kopi Bisa Tingkatkan Performa Olahraga, Begini Caranya

 

Pada studi ini, peneliti meminta 20 partisipan untuk memegang dan menekan sebuah sensor secara berulang. Mereka melakukan hal itu dalam tingkat berbeda, dari kekuatan minimum hingga maksimum.

Kemudian, peneliti memanfaatkan data yang mereka peroleh dari pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dan komputer.

Ditemukan bahwa rasa lelah muncul dari korteks motorik, menurut co-author studi, 
Korteks motorik adalah daerah di otak yang bekerja untuk mengendalikan gerakan otot.

Untuk mengetahui bagaimana korteks motorik memengaruhi fungsi otak, peneliti memberi dua pilihan kepada partisipan.

Baca juga: Gula Darah Tinggi Pengaruhi Performa Saat Berolahraga

Salah satu pilihan dianggap lebih berisiko oleh partisipan, yaitu menetapkan jumlah usaha dari lemparan koin yang memungkinkan mereka tidak berusaha atau melakukan usaha yang tidak ditentukan sebelumnya.

Lewat mengenalkan sesuatu yang tidak pasti, peneliti dapat melihat seberapa besar setiap peserta menghargai usaha mereka. Itu bisa memberi gambaran bagaimana orang akan memilih untuk bertahan, bahkan ketika mereka merasa lelah.

"Kami menemukan orang cenderung menjauhi risiko untuk menghindari sebuah upaya," kata Chib kepada Bicycling.

Hampir seluruh partisipan --kecuali satu orang-- memilih opsi yang lebih aman. Dan dari hasil pemindaian, korteks motorik tidak aktif selama seseorang dalam proses pengambilan keputusan.




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X