Terdiagnosis Kanker Payudara, Haruskah Payudara Diangkat?

Kompas.com - 03/10/2020, 16:59 WIB
Ilustrasi nyeri payudara. SHUTTERSTOCKIlustrasi nyeri payudara.

KOMPAS.com - Bukan hal mudah bagi perempuan untuk menerima kenyataan jika dirinya didiagnosis terkena kanker payudara. Selain memikirkan peluang kesembuhan, sebagian besar tidak siap kehilangan payudaranya.

Bagaimanapun, payudara merupakan hal berharga yang memberi ciri feminin pada perempuan. Tak jarang ada pasien kanker yang menolak payudaranya diangkat.

Pengangkatan payudara atau masektomi memang merupakan salah satu terapi pengobatan untuk mengoptimalkan kualitas hidup pasien.

Namun, dr.Andhika Rachman Sp.PD-KHOM mengatakan, pengangkatan payudara tak selalu jadi pilihan.

Masih ada kemungkinan pasien bisa mempertahankan payudaranya dan menjalani pengobatan dengan terapi lain. Pilihan tersebut ditentukan berdasarkan stadium, jenis kanker, kondisi klinis pasien, dan preferensi pasien.

“Jadi akan dilihat sejauh mana kanker itu menyebar. Apabila jaringan yang terkena terlalu banyak dan kemudian pendarahan juga banyak, tentu tindakan untuk mengangkat payudara kemungkinannya besar,” ujar Andhika, Sabtu (3/10/2020).

Baca juga: Knockers Kembalikan Kepercayaan Diri Penyintas Kanker Payudara

Dalam diskusi virtual bulan peduli kanker payudara yang diselenggarakan oleh CISC, dokter spesialis kanker itu menegaskan, tindakan pengobatan dan pilihan terapi untuk pasien kanker payudara ditentukan berdasarkan kasusnya.

Ada terapi pengobatan yang bisa dilakukan tanpa harus mengangkat payudara yakni terapi neoajuvan dengan terapi radiasi. Terapi ini dilakukan sebelum tindakan operasi dan diperuntukkan bagi pasien kanker payudara stadium awal.

“Terapi neoajuvan merupakan tindakan pra-operasi. Operasi tetap menjadi pengobatan utama bagi pasien kanker payudara stadium awal,” kata dokter yang berpraktik di RS MRCCC Siloam Hospital Jakarta ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ada beberapa kegunaan yang bisa didapatkan dari terapi ini. Pertama, pasien tetap bisa menjalani pengobatan tanpa harus payudaranya diangkat. Terapi ini juga mencegah supaya kanker tidak muncul lagi dan mengurangi pendarahan.

“Terapi neoajuvan membuat sel kanker yang masuk ke sel sehat mengecil sehingga ada batas antara sel kanker dan jaringan sehat. Pengobatan ini memperkecil ukuran kanker dan direkomendasikan untuk kanker stadium dua dan tiga,” ucap Andhika.

Walau terapi neoajuvan sudah dilakukan tapi jika yang terjadi adalah kanker payudara inflamatorik, maka tindakan pengangkatan payudara tetap harus dilakukan.

Kanker payudara inflamatorik ditandai dengan payudara yang membengkak, merah, terasa panas, nyeri, dan ada perubahan pada kulit.

Baca juga: Menstruasi di Usia Terlalu Muda Berisiko Tinggi Kanker Payudara

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X