Kompas.com - 01/12/2020, 20:35 WIB
Ilustrasi pornografi ShutterstockIlustrasi pornografi

KOMPAS.com - Peralihan semua kegiatan ke jejaring online selama masa pandemi Covid-19 membuat banyak orang justru menonton tayangan pornografi daripada masa sebelumnya.

Situs web PornHub mencatat, konsumsi tayangan porno meningkat hingga 24 persen tahun ini.

Bahkan, diduga konsumsi tayangan tersebut pun tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa.

Menurut beberapa sumber, rata-rata usia pertama kali orang terpapar pornografi adalah 11 tahun.

Baca juga: Mengapa Pornografi Bisa Merusak Komitmen dalam Suatu Hubungan?

Meski demikian, sangat sulit bagi orangtua untuk memberikan nasihat tentang pornografi pada anak-anak di usia itu. 

Demi mengatasi masalah ini, para ahli dari bidang psikologi, seksologi, sosiologi, dan studi media sudah menghabiskan waktu tiga tahun meninjau lebih dari 2.000 penelitian akademis tentang perkembangan seksual terkait dengan konsumsi pornografi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian hasil tinjauan itu digabungkan bersama semua informasi dalam lembar fakta yang menjelaskan poin-poin penting agar orangtua lebih peduli akan bahaya konten pornografi pada anak-anak mereka.

Nah, dari sana muncul beberapa rekomendasi yang harus dilakukan jika anak-anak terpapar konten pornografi.

Memberikan edukasi seks

Ketika kita menemukan anak-anak mulai terpapar konten pornografi, hal terpenting yang harus diketahui adalah jangan panik.

Melalui dukungan yang tepat, paparan pornografi tidak perlu menimbulkan kerusakan.

Kita harus memberi tahu mereka, bahwa pornografi bukan satu-satunya cara mereka mengetahui tentang seks.

Pendidikan seks yang komprehensif dan sesuai dengan usia anak sangat penting, baik dari kita sebagai orangtua maupun dari sekolah.

Baca juga: Tanda-tanda Anak Sudah Kecanduan Pornografi

Dengan semakin banyaknya anak-anak yang harus belajar online tahun ini, peran orangtua dianggap menjadi lebih penting. Terutama dalam edukasi seks.

Orangtua perlu memahami, apabila edukasi seks tidak membuat anak berhubungan seks lebih awal. Nyatanya, semua bukti menunjukkan yang sebaliknya.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak pasti akan bertumbuh dewasa dan mulai memiliki banyak pertanyaan tentang organ reproduksi mereka. Bahkan, asal usul kehadiran bayi.

Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan jujur, menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia.

Lalu, orangtua pun -yang terpenting, harus menyampaikannya tanpa rasa canggung. Jadikan hal itu tampak normal.

Maka, diharapkan dengan cara itu kita akan senang membicarakannya bersama dengan anak anak.

Pahami keingintahuan anak

Tentu saja, setelah masa pubertas situasinya akan sedikit berubah.

Sebab, pada saat mereka masih anak-anak, kemungkinannya kecil untuk menemukan pornografi, dan lebih sedikit pula kecenderungan untuk mencarinya.

Sekali lagi, kuncinya di sini adalah pendidikan seks yang komprehensif dan komunikasi terbuka.

Jika mereka sudah mengetahui tentang seks, mereka cenderung tidak akan mencari informasi tentang seks.

Baca juga: Jangan Mengakses Pornografi Lewat Ponsel, Mengapa?

Apalagi, kebanyakan konten pornografi tidak bagus dalam pendidikan seks. Itulah mengapa sangat penting bagi orangtua memastikan anak-anak memiliki pemahaman yang baik.

Anak-anak harus dibuat terbuka berbicara tentang pasangan seksual, apa yang mereka sukai, dan apa yang diinginkan pasangannya, ketika mereka mencapai tahap itu.

Beri tahu anak-anak tentang pentingnya mengajukan pertanyaan kepada pasangan mereka kelak, dan bagaimana proses negosiasi dalam hubungan seks terjadi.

Tantangan terakhir

Satu tantangan terakhir bagi banyak orangtua adalah bahwa pornografi mungkin tidak mengajarkan nilai-nilai yang sama tentang seks seperti yang kita pegang.

Pornografi lebih menunjukkan seks hanya untuk kesenangan semata, bukan untuk cinta.

Kita perlu menjelaskan kepada anak-anak secara terbuka dan jujur, nilai-nilai kita sendiri seputar seks.

Kemudian bersiaplah untuk menjelaskan mengapa kita memegang nilai-nilai itu.

Baca juga: Pornografi Bisa Membuat Pria Tak Lagi Tertarik Seks

Ini bisa menjadi tantangan, terutama untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka saat anak-anak tumbuh dan mulai mengeksplorasi kehidupan seksual mereka sendiri.

Misalnya, di Belanda anak-anak sering meminta nasihat orangtua tentang seks dan mereka sangat menghargainya.

Ingatlah, komunikasi terbuka adalah hal yang paling mungkin untuk memastikan anak-anak kita tidak dirugikan oleh konten seksual yang mereka lihat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.