Kompas.com - 08/01/2021, 14:32 WIB
Ilustrasi sisa makanan dijadikan kompos. Cara ini bermanfaat untuk mengurangi sampah makanan. SHUTTERSTOCK/JCHIZHEIlustrasi sisa makanan dijadikan kompos. Cara ini bermanfaat untuk mengurangi sampah makanan.

 

KOMPAS.com – Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020, berbagai macam aktivitas manusia terganggu. Bahkan, slogan yang kerap mencuat saat tahun baru “new year new me” seperti tampak tidak meriah, baik di percakapan sehari-hari atau di media sosial.

Slogan ini memang bukan tradisi wajib. Namun, slogan ini bisa menjadi pengingat dan momentum bagi pribadi-pribadi yang ingin menjadi lebih baik, sesuai dengan tujuannya masing-masing.

Tujuan-tujuan tersebut bisa dari memulai gaya hidup sehat, mewujudkan target finansial, atau sekadar menabung agar bisa travelling ke luar negeri. Harapan dan semangat itu biasa dikenal dengan resolusi.

Berbicara resolusi dan berkaca dari berbagai peristiwa yang terjadi pada 2020, tahun ini bisa jadi momen untuk berkontribusi membuat bumi menjadi tempat yang lebih baik. Sebab, virus corona, misalnya, ditengarai berawal dari kerusakan lingkungan.

Baca juga: Bukan Kebetulan, Virus Corona Muncul Akibat Ulah Manusia

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (22/4/2020), Direktur Lingkungan Hidup USAID Indonesia Matthew Burton mengatakan, virus corona adalah contoh dari patogen yang berasal dari hewan dan bisa menular ke manusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sebagian besar virus tersebut menginfeksi hewan, tapi beberapa virus lain ditransmisikan kepada manusia. Hal ini menyebabkan wabah penyakit seperti SARS atau MERS,” tuturnya dalam diskusi bertajuk "Covid-19 and Our Relationship with Wildlife".

Matthew menyebut, kerusakan ekosistem berkaitan dengan peningkatan signifikan penyakit menular baru (emerging infectious disease) yang berasal dari satwa liar.

Untuk itu, menjaga kelestarian alam adalah salah satu solusi guna mencegah munculnya virus-virus baru, termasuk menghalau krisis iklim.

Baca juga: Eksploitasi Satwa Liar dapat Tingkatkan Transmisi Virus ke Manusia

Tidak perlu khawatir, menjaga lingkungan bukan hanya membersihkan sampah di pantai atau menanam pohon di hutan. Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan, mulai dari rumah.

Ilustrasi sampah plastik yang menumpuk. Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi sampah plastik yang menumpuk.

Dilansir The Guardian, Sabtu (29/2/2020), berikut beberapa gaya hidup ramah lingkungan yang bisa Anda terapkan di rumah.

Praktik-praktik ramah lingkungan

Sampah plastik mengancam kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia, jadi memperketat pemakaian plastik menjadi keharusan. Cobalah menggunakan peralatan dengan bahan ramah lingkungan yang bisa digunakan berkali-kali dan dapat didaur ulang.

Selain itu, menghemat listrik juga cara lain melindungi lingkungan. Sebab, sebagian besar sumber energi listrik saat ini masih berasal dari bahan bakar fosil.

Baca juga: Perabot Ramah Lingkungan Bisa Jadi Gaya Hidup Berkelanjutan

Sebagai gantinya, Anda bisa mencoba memilih lampu LED, saklar pintar, hingga mengurangi mencuci pakaian terlalu sering. Sebab, penulis Erin Rhoads dalam Waste Not Everyday menyebut, 82 persen penggunaan listrik digunakan untuk garmen, seperti mencuci dan mengeringkan.

Bukan cuma menghemat listrik, untuk menjaga lingkungan Anda juga harus meminimalkan membuang limbah elektronik.

Sebab, sampah elektronik adalah salah satu bahan yang berbahaya bagi lingkungan. Apalagi beberapa materialnya berasal dari mineral di dalam bumi, yang untuk mengambilnya kadang harus dilakukan dengan merusak lingkungan.

Pemilihan penggunaan transportasi juga sangat penting. Ini karena emisi kendaraan bermotor merupakan salah satu penyuplai gas rumah kaca (GRK) terbesar.

Seperti diketahui, GRK merupakan berbagai gas yang memicu efek rumah kaca sehingga mengakibatkan perubahan iklim.

Baca juga: Pasang Panel Surya Bisa Hemat Listrik hingga 30 Persen

Untuk itu, kurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan memakai transportasi umum, bersepeda, hingga berjalan kaki.

Bersihkan dapur

Bersih-bersih dapur bukan berarti menyapu dan mengepel, namun mengatur sampah makanan atau food waste. Sebab, hampir setengah dari produksi sampah manusia adalah sampah makanan.

Padahal, sampah makanan yang terbuang dan terurai di tanah akan melepaskan gas metana, salah satu komponen gas rumah kaca yang 86 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Sebagai solusi, Chef dan penulis, Ollie Hunter mengimbau agar memperlakukan sampah makanan sebagai bahan.

Baca juga: Yuk Buat Pupuk Kompos Sendiri di Rumah

Dia mencontohkan, aquafaba (air kental dari rebusan/rendaman kacang-kacangan) bisa menjadi moyonaise vegan, biji labu madu bisa digoreng jadi camilan, atau potongan batang zukini bisa dijadikan pasta.

Selain itu, belanjalah di tempat terdekat dan sesedikit mungkin. Membeli bahan makanan yang sedikit bisa mengurangi pembuangan makanan yang mulai membusuk. Sedangkan belanja di tempat terdekat dapat meminimalkan rantai pasok makanan.

Untuk sampah makanan yang tersisa, lakukanlah pengomposan. Hal ini penting agar sisa makanan tidak terbawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dan hasilnya bisa dipakai untuk menyuburkan tanah.

Memilih makanan

Seperti diketahui, makanan adalah salah satu penyumbang GRK terbesar. Sebab, sampah organik yang mengalami pembusukan akan mengeluarkan gas metana.

Baca juga: Apa Bedanya Food Loss dan Food Waste? Limbah Makanan yang Jadi Masalah

Untuk itu, pilihlah pola makan yang bisa mengurangi langsung perubahan iklim. Salah satunya adalah menerapkan diet daging merah.

Industri peternakan sapi diketahui memiliki proses operasional yang panjang, mulai dari menyediakan pakan, seperti jagung dan air hingga proses pengiriman. Akibatnya, butuh usaha besar dalam setiap peternakan sapi.

Dikutip dari New York Times, Selasa (1/10/2019), hampir 30 persen lahan di bumi digunakan untuk peternakan. Hasil pertanian untuk peternakan juga dilakukan dengan cara membabat hutan.

Masalahnya, tidak seperti ayam atau babi, sapi merah membutuhkan lebih banyak lahan, baik untuk kandang maupun penyiapan pakan.

Selain itu, sapi juga merupakan hewan yang mengeluarkan gas metana cukup besar dari kotorannya. Bahkan, gas metana yang dihasilkan sapi hampir menyumbang 10 persen GRK di atmosfer.

Baca juga: 6 Gas Rumah Kaca

Sebagai gantinya, cobalah untuk mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan laut dari produksi lokal.

Memilih produksi lokal dapat menghemat rantai operasional, seperti pengiriman dan pengemasan sehingga lebih ramah lingkungan.

Pakai baju bekas

Proses pembuatan baju yang begitu panjang dengan berbagai campuran bahan kimia tentu berdampak pada lingkungan. Untuk mengatasinya, cobalah menahan diri tidak membeli baju baru dengan memperbaiki baju lama atau membeli baju bekas.

Meski begitu, bukan berarti harus terus mengenakan pakaian butut. Ada banyak komunitas dan berbagai macam toko yang menjual pakaian bekas vintage (gaya era lama) dengan harga terjangkau dan tetap bergaya.

Baca juga: 5 Alasan Negara Perlu Tegas Ambil Kebijakan soal Perubahan Iklim

Bila perlu, gunakan pula jasa rental baju untuk pakaian yang digunakan dalam acara-acara tertentu atau sekali pakai.

Kemudian, berbelanja langsung juga lebih diutamakan ketimbang secara online. Sebab, pakaian yang dikirim dari tempat yang jauh tentu akan meninggalkan banyak jejak karbon.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X