Kompas.com - 05/02/2021, 08:58 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Sebagai orangtua kita juga punya emosi. Kita bisa gembira, marah, sedih, dan ingin menangis. Namun, kesedihan dan tangisan biasanya selalu kita sembunyikan dari anak-anak.

Seorang parent educator yang berbasis di San Jose, California, Beth Proudfoot, LMFT mengatakan, menangis sangat membantu melepaskan oksitosin dan endorfin, bahan kimia yang dapat membantu meringankan rasa sakit fisik maupun emosional.

Para ahli menekankan, semakin banyak anak-anak melihat orang dewasa dalam hidup mereka menangis dan bangkit kembali, anggapan air mata adalah sesuatu yang buruk jadi berkurang.

Untuk memahami lebih lanjut, berikut adalah beberapa pedoman bagi orangtua ketika ingin meluapkan kesedihannya di depan anak-anak.

Baca juga: Orangtua Bercerai Bukan Penyebab Utama Psikologis Anak Terganggu

1. Katakan bukan salah anak-anak

Anak-anak, terutama yang lebih muda, pada dasarnya egosentris. Mereka akan berpikir telah membuat orangtuanya sedih jika melihat kita menangis, kecuali kita menjelaskan penyebab sebenarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Proudfoot merekomendasikan agar orangtua mengatakan kepada anak-anak (tangisan) itu bukan salah mereka.

Isabel Bascón, yang bekerja di sebuah sekolah keperawatan juga memiliki saran yang serupa.

"Jelaskan pada anak-anak dengan pernyataan yang sederhan dan mudah dipahami oleh mereka. Misalnya, 'Aku rindu temanku' atau 'Ternyata hal ini tidak seperti yang kuinginkan," katanya.

Baca juga: Balita Sering Memukul Ketika Marah, Ini yang Harus Dilakukan Orangtua

2. Menjelaskan perasaan

Biarkan anak-anak tahu bahwa kita menangis karena sedih, bahagia, marah, frustrasi atau sedang tersentuh. Semakin cepat mereka dapat mengidentifikasi nuansa emosi mereka sendiri, semakin baik.

"Orangtua harus mencontohkan anak-anak ekspresi emosi yang sesuai," kata Proudfoot.

Itu berarti tidak menyembunyikan air mata di depan mereka, tetapi juga tidak menundukkan anak-anak untuk kemarahan atau kesedihan yang ekstrem.

IlustrasiPexels Ilustrasi

3. Temukan kenyamanan di tempat lain

Tidak apa jika anak-anak memberikan pelukan ketika orangtua menangis karena itu menunjukkan bahwa mereka berempati.

"Tetapi, beberapa orangtua selalu mengharapkan anak-anak dapat terus menghibur," ungkapnya.

Alih-alih menunjukkan kecenderungan alami untuk menghibur orang yang dicintai dalam momen emosi, seorang anak mungkin mulai terbebani harus membuat orangtuanya merasa lebih baik.

"Pembalikan peran semacam ini tidak secara sering tidaklah baik. Orangtua harusnya menghibur anak-anak, bukan sebaliknya," ujarnya.

Baca juga: Orangtua Jangan Sering Bohong, Ini Dampak pada Anak Saat Dewasa

4. Tersenyumlah melalui air mata

Jika anak-anak menawarkan kenyamanan, ucapkan terima kasih dengan senyum lebar dan beri tahu mereka kalau kita baik-baik saja.

Katakan juga, bahwa memiliki orang dewasa lain di sekitar itu berguna untuk mendukung kita di masa-masa yang emosional.

Ketika kesedihan atau stres datang lagi, alihkan hal-hal tersebut ke dalam tawa dan sesuatu yang menyenangkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.