Kompas.com - 19/07/2021, 21:00 WIB
Sejumlah penderita Covid-19 mengalami insomnia ketika menjalani isolasi mandiri. SHUTTERSTOCKSejumlah penderita Covid-19 mengalami insomnia ketika menjalani isolasi mandiri.

KOMPAS.com - Sebagian orang menderita insomnia atau kualitas tidur yang buruk setelah dinyatakan positif Covid-19.

Padahal, seseorang yang sedang berjuang sembuh dari infeksi ini juga perlu meningkatkan daya tahan tubuhnya. Kualitas tidur yang buruk alih-alih dapat menbantu meningkatkan kekebalan tubuh, justru malah dapat menurunkannya.

Jika Anda mengalaminya, tak perlu khawatir. Sebab, Anda tak sendirian.

"Ini sering dialami tidak hanya oleh pasien isoman (isolasi mandiri) di rumah, tapi yang di rumah sakit juga. Apalagi yang sendirian dan biasanya selalu ditemani."

Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro dalam Siaran Sehat Radio Kesehatan yang bertajuk "Sambut Idul Adha #DiRumahAja", Senin (19/7/2021).

Baca juga: Isolasi Mandiri, Kapan Penderita Covid-19 Sudah Tak Tularkan Virus?

Sering kali, lanjut Reisa, insomnia tersebut disebabkan oleh perasaan cemas, takut, dan was-was akan kondisi yang dihadapi sehingga pikiran terlalu terbebani dan pada akhirnya menjadi sulit tidur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menekankan pentingnya memiliki manajemen stres yang baik sehingga tak kondisi tak terlalu menjadi beban pikiran.

Beberapa saran yang diberikan Reisa antara lain:

  • Memperbanyak ibadah. Ibadah dan berdoa dapat membantu seseorang menenangkan diri. Dengan beribadah, kita dapat meminta perlindungan dari Tuhan agar diberi kesembuhan dari penyakit.
  • Menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman-teman untuk mengurangi stres.
  • Mencari aktivitas positif yang menyenangkan sehingga kepala kita tak dipenuhi pikiran-pikiran negatif sepanjang waktu ketika menjalani isoman.

Namun, jika sulit tidur tersebut disebabkan karena kesulitan bernapas atau detak jantung yang cepat, Reisa menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis.

Sebab, itu bisa jadi merupakan "sinyal" tubuh yang kekurangan oksigen dan memerlukan penanganan segera.

"Jadi segera konsultasi dengan dokternya supaya mendapatkan solusi yang tepat atas kondisi masing-masing," kata perempuan yang bergelar Puteri Indonesia Lingkungan 2010 itu.

Baca juga: Simak, Kemenkes Bagikan 3 Tips Menaikkan Saturasi Oksigen

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.