Kompas.com - 24/01/2022, 14:18 WIB

KOMPAS.com - Setelah melalui masa-masa sulit dan “terkurung” akibat pandemi yang membatasi gerak dan membuat stres meningkat, belakangan ini banyak orang sudah mendapatkan kembali senyumnya dan nampak bahagia.

Ya, beberapa waktu lalu, aturan terkait pandemi sedikit melonggar dengan diperbolehkannya sekolah tatap muka atau bekerja dari rumah.

Bahkan, bioskop dan beberapa acara hiburan tatap muka pun mulai ramai digelar, membuat rasa stres sebagian orang berkurang karena tidak lagi terkurung dan bisa bersosialisasi.

Namun, apakah itu benar-benar rasa bahagia?

Pasalnya, terkadang kita berpikir apakah kita benar-benar bahagia atau tidak dan mulai berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengalaminya.

Baca juga: 7 Ritual Malam agar Bangun Lebih Bahagia Esok Harinya

Karena itulah, terkadang kita salah mengartikan kebahagiaan sebagai fulfillment atau kepuasan hidup.

Istilah tersebut memang sering digunakan bersamaan, tetap ada bedanya.

Kebahagiaan umumnya bersifat sementara dan hanya berlaku sekali saja. Kendati demikian, semua orang tetap menyukainya.

Sementara itu, kepuasan umumnya bertahan lebih lama dan invasif.

Kepuasan diri adalah keadaan yang berkembang melalui cobaan dan kemenangan, mengatasi kegagalan, dan bangkit kembali dengan karakter yang lebih kuat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
TANYA PAKAR - PARENTING
Ini 7 Tanda Pasangan Sudah Siap Menikah
Ini 7 Tanda Pasangan Sudah Siap...
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.