43 Hari Tanpa Media Sosial: Sebuah Percobaan - Kompas.com

43 Hari Tanpa Media Sosial: Sebuah Percobaan

Ika Krismantari
Kompas.com - 12/06/2017, 17:00 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

Awalnya sih, saya tidak merencanakan apa-apa.  Semuanya terjadi begitu saja. Suatu hari telepon genggam saya rusak gara-gara dibanting anak kedua saya. Setelah mendapatkan yang baru, saya memutuskan untuk tidak mengunduh aplikasi media sosial di HP terbaru. Dan akhirnya, tepat tanggal 1 Mei, saya resmi tidak mempunyai akses ke akun media sosial saya dan memulai eksperimen kecil-kecilan tentang hidup tanpa media sosial.

Sebenarnya  percobaan ini adalah tindak lanjut dari keputusan saya sebelumnya untuk menghentikan menggunakan Facebook di ponsel. Sejak awal tahun ini, saya membatasi akses ke akun Facebook saya hanya di laptop dan komputer.

Setelah itu, saya merasa hidup saya baik-baik saja, bahkan menjadi lebih produktif karena waktu yang terbuang untuk melihat Facebook bisa saya gunakan untuk hal yang lain. Dari hasil yang positif ini, saya mencoba menantang diri saya ini untuk melakukannya pada akun media sosial yang lain: Twitter, Path dan Instagram.

Saya melakukan eksperimen sosial ini karena didorong oleh kepenatan saya hidup di dalam putaran media sosial. Hari-hari saya didominasi dengan ritual membuka akun media sosial yang satu ke akun media sosial yang lain. Ritual ini dimulai sejak saya membuka mata sampai siap berangkat tidur.

Kebiasaan ini pun merubah menjadi sesuatu yang instingtif. Tanpa sadar, ketika membuka telpon genggam, hal yang pertama saya lakukan adalah mengecek akun-akun saya untuk melihat perkembangan terkini. Bayangkan, betapa banyak waktu yang terbuang jika kita habiskan 5 menit saja untuk setiap akun media sosial yang kita miliki?

Alasan kedua, saya ingin men-detox saya dari energi negatif penggunaan media sosial. Saya tidak menyangkal bahwa media sosial juga memiliki banyak manfaat mulai dari memberi informasi sampai menginspirasi, tapi saya pernah merasa sedih, resah dan tidak berguna setelah melihat akun orang-orang yang memaparkan kehidupan mereka yang lebih sukses dan bahagia.

Parahnya, saya tidak kenal mereka. Mulai dari temannya teman yang nampak bahagia dengan karier dan keluarga mereka sampai artis-artis yang memamerkan hidup sempurna mereka. Mungkin ini yang namanya Facebook Envy (Kecemburuan gara-gara Facebook). Sebuah penelitian di Denmark menunjukkan 4 dari 10 orang  iri terhadap kesuksesan yang orang lain tunjukan di Facebook.

Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa orang akan cenderung lebih bahagia ketika tidak memakai Facebook selama seminggu.

Belum lagi teror online shopping yang begitu kental di sosial media. Untungnya saya bukan orang yang gampang diteror. Tapi, ada teman kantor yang memutuskan untuk menutup akun Instagramnya untuk menghindar dari setan online shopping.

IST Ilustrasi.
Didasari oleh alasan-alasan di atas, saya pun melakukan puasa media sosial. Tanpa disengaja, waktunya pun pas dengan bulan Ramadan. Jadi, ketika umat Muslim menahan lapar dan dahaga, saya juga menahan diri untuk tidak mengintip akun media sosial saya.

Di minggu-minggu pertama semua berjalan mudah. Toh,  saya praktis benar-benar tidak punya HP karena rusak. Namun setelahnya, semua menjadi sedikit berat. Saya pun sesekali membuka Facebook atau Twitter di laptop. Meski hanya melihat-lihat saja tanpa posting atau memberi komentar, tapi tetap saja yah…

Lalu tiba saatnya saya pergi liburan dua minggu bersama keluarga saya ke Jepang dan saya tidak membawa laptop. Jadi selama dua minggu itu, saya benar-benar tidak membuka akun media sosial saya. Selama itu, saya benar-benar merasa liburan saya optimal. Saya menikmati setiap momennya bersama keluarga saya beranjak dari satu kota ke kota yang lain tanpa ada tuntutan harus update ini-itu di media sosial dan kemudian membalas likes atau komentar dari teman.

Kembali ke realita, puasa saya di media sosial kembali menjadi berat. Tuntutan pekerjaan dan pergaulan menjadikan saya alien di tengah-tengah masyarakat yang fasih menggunakan media sosial sebagai pembuka pembicaraan mereka. Terkadang, saya pun tak kuasa meminta maaf atas pilihan yang membuat saya jadi tidak tahu apa-apa yang mereka bicarakan.

Media sosial bukan lagi sebuah pilihan tapi keharusan yang menyisakan rasa bersalah kepada orang-orang yang tidak memilihnya. Saya pun tak kuasa akhirnya melihat timeline Facebook suami saya untuk sekadar melihat kabar terkini teman-teman kami. Dan seperti sudah saya duga, saya pun akhirnya menjadi target      teman-teman dekat saya, sebuah konsekuensi yang saya sudah siap hadapi.

Entah sampai kapan eksperimen ini akan berlangsung. Saya belum berencana untuk menghentikannya. Mungkin suatu saat nanti. Yang jelas saya tidak ingin seperti banyak artis yang menjilat ludah mereka sendiri karena tak lama setelah mereka mengumumkan mereka berhenti dari media sosial, mereka pun kembali lagi.

Tapi hasil yang saya dapat dari eksperimen ini cukup menarik. Meskipun saya kehilangan beberapa hal, saya merasakan saya menemukan hal-hal yang selama ini saya anggap remeh.  Saya merasa hidup saya lebih produktif. Waktu yang saya buang memandangi layar HP saya gunakan salah satunya untuk membaca buku.  

Saya juga merasa hidup saya lebih fokus ketika menghabiskan waktu bersama anak-anak saya. Tidak ada lagi bermain bersama anak-anak sambil kutak-kutik telpon genggam.

Lebih dari itu, saya merasa lebih bahagia. Sejauh ini eksperimen saya selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan di Denmark yang menunjukkan bahwa tanpa Facebook orang akan lebih bahagia. Saya merasa tidak perlu lagi membanding-bandingkan hidup saya dengan orang lain. Saya cukup fokus dengan kehidupan saya dan keluarga saya dengan apa yang kami punya.

Saya tidak perlu merasa kekurangan ini itu dan merasa butuh ini itu, karena semuanya ada di depan mata saya dan bukan di layar HP atau komputer.

Jadi, tidak ada salahnya berhenti sejenak dari akun media sosial kita, karena hal ini tidak hanya bagus untuk kesehatan fisik (dalam hal ini mata tentunya) tapi juga kesehatan jiwa kita dan dompet tentunya.


EditorLusia Kus Anna
Komentar

Terkini Lainnya

Cara Cepat Mengatasi Mata Bintitan

Cara Cepat Mengatasi Mata Bintitan

Feel Good
Kenali Penyebab Mata Sering Bintitan

Kenali Penyebab Mata Sering Bintitan

Feel Good
Rutinitas Latihan Pemegang Rekor Ultra Marathon Michael Wardian

Rutinitas Latihan Pemegang Rekor Ultra Marathon Michael Wardian

Feel Good
Sepatu Lari Hoka One One Punya Bantalan Lebih Tebal

Sepatu Lari Hoka One One Punya Bantalan Lebih Tebal

Look Good
Kota Daejon di Korea Selatan Unggulkan Turisme Kecantikan

Kota Daejon di Korea Selatan Unggulkan Turisme Kecantikan

Look Good
Cek Fungsi Mata Bayi Sedini Mungkin

Cek Fungsi Mata Bayi Sedini Mungkin

Feel Good
5 Supermodel Legendaris Ini Masih Cantik dan Langsing

5 Supermodel Legendaris Ini Masih Cantik dan Langsing

Look Good
Biar Tak Mudah Sakit, Rajinlah Konsumsi Apel

Biar Tak Mudah Sakit, Rajinlah Konsumsi Apel

Eat Good
Jangan Biasakan Bawa 'Gadget' ke Toilet

Jangan Biasakan Bawa "Gadget" ke Toilet

Feel Good
Semuanya Normal, tapi Kok Sulit Hamil? Mungkin Ini Penyebabnya

Semuanya Normal, tapi Kok Sulit Hamil? Mungkin Ini Penyebabnya

Feel Good
Starbucks dan Cerita Mereka yang Berkunjung ke Indonesia

Starbucks dan Cerita Mereka yang Berkunjung ke Indonesia

Eat Good
Berapa Kali Nonton Porno yang Masih Dianggap Normal?

Berapa Kali Nonton Porno yang Masih Dianggap Normal?

Feel Good
Pertanyaan Seks Paling Sering Ditanyakan di Internet

Pertanyaan Seks Paling Sering Ditanyakan di Internet

Feel Good
Sisi Positif dan Negatif Anak Bermain Ponsel

Sisi Positif dan Negatif Anak Bermain Ponsel

Feel Good
Remaja Rentan Jadi Penyebar Berita Hoax

Remaja Rentan Jadi Penyebar Berita Hoax

Feel Good
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM