Salin Artikel

Dampak Psikologis Ghosting, Bukan Sekedar Gagal Move On

KOMPAS.com - Menjadi korban ghosting memberikan perasaan yang menyakitkan dan tidak  berharga. Penelitian membuktikan jika tubuh menerjemahkan perasaan sakitnya serupa dengan luka fisik.

Ghosting adalah istilah yang populer belakangan ini untuk kondisi ketika seseorang ditinggalkan tanpa penjelasan.

Berasal dari kata ghost alias hantu, makna kata ini juga mengacu pada sifat hantu yang dipercaya muncul dan menghilang begitu saja.

Mengacu pada Cambridge Dictionary, ghosting diartikan sebagai “a way of ending a relationship with someone suddenly by stopping all communication with them”.

Melansir dari The New York Times, riset menyebutkan jika penolakan sosial dalam bentuk apapun mengaktifkan saraf rasa sakit yang sama di otak dengan sakit fisik.

Hal ini pula yang terjadi ketika menjadi korban ghosting. Terlebih lagi hubungan dengan orang lain kerap menjadi keterampilan bertahan hidup bagi manusia.

Otak kita memiliki apa yang disebut sistem pemantauan sosial yang menggunakan suasana hati, orang, dan isyarat lingkungan untuk melatih diri merespon kondisi tertentu.

Namun, ketika menjadi korban ghosting, hal itu tidak berlaku. Akibatnya orang tersebut jadi mempertanyakan diri sendiri dan merasa tidak punya harga diri. Kepercayaan diri juga ikut pupus karenanya.

Wendy Walsh, Profesor Psikologi dari California State University menjelaskan ada empat level dari tindakan ini. Semakin dekat dan dalam hubungan yang dijalin, maka semakin tinggi levelnya.

Intensitas hubungan dan kontak fisik menjadi salah satu yang berpengaruh. Meski kadarnya berbeda namun semuanya bisa mempengaruhi kesehatan emosional seseorang.

Perasaan ditinggalkan, ditolak dan dianggap tidak berharga untuk mendapatkan penjelasan kerap dirasakan oleh korban ghosting. Tak heran jika kemudian ini berpengaruh pada semangat hidup dan suasana hati seseorang.

Psikolog, Jennice Vilhauer menyebutkan jika perasaan ambigu inilah yang membuat ghosting terasa amat menyakitkan. Tindakan ini sendiri dianggap sebagai bentuk final dari silent treatment. 

Kondisi ini merujuk pada kekejaman emosional yang dipercaya bisa diredakan dengan obat pereda rada sakit. Jelas saja ini membuktikan jika perasaan negatif itu sangat nyata dan buruk.

Efek buruk lainnya adalah korban ghosting akan cenderung menyalahkan diri sendiri. Psikolog yang berbasis di Los Angeles ini mengatakan akan ada sejumlah pertanyaan kepada diri sendiri.

"Apa ada kesalahan yang aku perbuat?" atau "Mungkin aku bukan pasangan yang cukup baik" adalah dua jenis pertanyaan yang sering muncul. Berbagai perasaan negatif ini kemudian membuat rasa sakitnya bertahan lama.

Korban ghosting tidak hanya berkutat pada perasaan gagal move on saja. Ada kepercayaan diri yang runtuh dalam proses tersebut.

Selain itu, bisa saja muncul perasaan khawatir di kemudian hari untuk bisa kembali memulai hubungan dengan orang lain.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/03/07/160000720/dampak-psikologis-ghosting-bukan-sekedar-gagal-move-on

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.