Salin Artikel

3 Kebiasaan Sederhana Ini Bantu Mengembalikan Fokus

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah salah satu tanda bahwa kita kehilangan fokus atau perhatian.

Menurut sebuah penelitian, seseorang umumnya menghabiskan 50 persen waktu hidupnya pada kondisi kehilangan fokus.

Jika terjadi di hari kerja, kondisi itu tidak hanya dapat mengganggu kita, tetapi juga menjadi konsekuensi bagi kesuksesan dan produktivitas.

Jadi, bagaimana kita bisa mendapatkan kembali fokus saat bekerja, baik dari rumah maupun kantor?

Dalam buku barunya Peak Mind, seorang ahli saraf terkemuka, Amishi Jha membahas mengenai hal ini.

Jha menjelaskan, kehilangan fokus bukan karena otak kita tidak mampu berfungsi dengan baik.

"Jika fokus kita beralih ke email dan kemudian mengkhawatirkan apa yang kita pikirkan, sistem perhatian otak memang dirancang seperti itu," kata Jha.

Fokus kita biasanya tertuju pada informasi baru yang menonjol. Sehingga, ketika kita sedang bekerja dan respons otak dipicu oleh dengungan telepon, kita harus mengeluarkan energi mental untuk mengarahkan fokus kita kembali ke tempat yang kita butuhkan.

"Memandu perhatian kembali ke tempat yang kita butuhkan itu tidak mudah dan melelahkan."

"Bahkan, sebelum kita dapat mengembalikan fokus kita ke tugas yang ada, kita perlu menyadari bahwa kita telah salah menempatkannya sejak awal," tutur dia.

Kebiasaan harian untuk mengembalikan fokus

Ada beberapa cara yang didukung secara ilmiah untuk membantu diri kita mengatasi masalah ini. Jha membagikan tiga kebiasaan yang membuat kita bisa lebih fokus, seperti dilansir dari laman Inc berikut:

"Pikirkan fokus kita seperti senter. Kita hanya mengarahkannya ke satu tugas, dan kemudian melepaskan, lalu memindahkannya ke tugas lain, bolak-balik," ungkapnya.

"Kita tidak bisa menyorotkan "cahaya" pada dua tugas secara bersamaan. Ketika kita membutuhkan fokus, matikan notifikasi dan lakukan monotasking (satu tugas) untuk hasil yang lebih baik."

Jika kita benar-benar perlu melakukan lebih dari satu tugas yang menuntut perhatian pada saat yang sama, ingatlah bahwa akan ada kelambatan dalam kinerja.

Tak perlu memarahi diri sendiri atas ketertinggalan itu. Pahamilah bahwa kita memang tidak bisa melakukan dua hal sekaligus.

Jha menyarankan untuk melakukan latihan singkat berikut, beberapa kali sehari sebagai cara untuk memeriksa perhatian kita.

Mantranya adalah STOP. S adalah menghentikan apa yang kita lakukan, T adalah menarik napas, O adalah mengamati apa yang terjadi di dalam diri kita dan di sekitar kita, sementara P adalah lanjutkan untuk bekerja.

"Istirahat otak ini memungkinkan kita untuk kembali ke masa kini dengan fokus pada masa kini, sehingga kita dapat mengarahkan "senter" kita ke tempat yang memang dibutuhkan," ujarnya.

Tetapi, sebelum kita memulai latihan mindfulness harian singkat selama 12 menit ini, ingatlah bahwa tujuannya bukan untuk memiliki fokus yang benar-benar tajam karena itu tidak mungkin.

"Pikiran kita dirancang untuk keteralihan perhatian. Tapi kita bisa berlatih untuk menempatkan fokus kita di tempat yang tepat dan mengembalikannya ke jalurnya saat kita membutuhkannya," ujarnya.

Mulailah dengan duduk nyaman dengan postur tegak namun santai. Jangan ragu untuk menundukkan kepala atau menutup mata kita. Jha memberikan empat langkah mindfulness berikut:

  • Fokus

Pilih sensasi pernapasan yang paling menonjol bagi kita. Pikirkan napas sebagai target perhatian kita.

Sensasinya bisa berupa gerakan seperti dada bergerak atau kesejukan pada kulit saat udara mengalir dari hidung.

Sekarang, fokuskan "senter" kita pada semua sensasi yang berhubungan dengan napas ini.

  • Perhatikan

Perhatikan ketika pikiran kita telah mengembara jauh dari napas. Fokus kita mungkin telah berpindah ke pikiran, sensasi, atau ingatan.

  • Arahkan ulang

Ketika pikiran kita melayang jaug, cukup arahkan kembali perhatian kita ke napas.

  • Ulangi

Mulai lagi. Fokus, perhatikan, dan, arahkan ulang.

Praktik ini sangat dapat disesuaikan, terutama untuk membangun fokus saat sedang bekerja.

Email, rapat, atau laporan kerja semuanya bisa bergiliran menjadi sasaran perhatian kita. Tapi, usahakan tetap fokus, memperhatikan pikiran yang mengembara, dan mengarahkannya kembali.

Jangan khawatir tentang ribuan pemikiran yang mungkin muncul selama mempraktikkan mindfulness. Sebab, otak kita memang tidak dirancang untuk bebas dari pikiran.

Seperti diungkapkan oleh penelitian Jha tentang ilmu perhatian, menerapkan mindfulness ke dalam kehidupan kerja kita memiliki kekuatan serta manfaat bagi kinerja, kepemimpinan, dan kesejahteraan kita.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/10/23/175452620/3-kebiasaan-sederhana-ini-bantu-mengembalikan-fokus

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.