Salin Artikel

Alkohol dalam Skincare, Haruskah Dihindari?

Sebabnya mereka khawatir alkohol membuat kulit teriritasi, mudah kering, pori-pori tersumbat, hingga jerawat muncul.

Tapi, di antara kekhawatiran-kekhawatiran itu, benarkah skincare yang mengandung alkohol selalu mendatangkan efek buruk bagi wajah?

Ternyata jawabannya tidak selalu demikian.

Menurut dua dokter kulit bersertifikat, Jeannette Graf dan Marisa Garshick, alkohol dalam skincare justru mempunyai sejumlah manfaat.

Keduanya menjelaskan soal manfaat alkohol dalam skincare, dan bagaimana alkohol bisa merusak kulit.

Mengapa alkohol digunakan dalam skincare?

Ketika diformulasikan ke dalam produk skincare, alkohol bisa bekerja dalam berbagai cara.

Tujuan utamanya, kata Graf, untuk meningkatkan penetrasi bahan skincare lainnya.

Dia mencontohkan, alkohol dapat membantu antioksidan, seperti vitamin C dan retinol, agar meresap ke lapisan kulit yang lebih dalam dan membuatnya lebih efektif.

Alkohol juga mampu melarutkan bahan-bahan membandel yang tidak hilang dengan air.

Penjelasan Graf ini juga didukung oleh Garshick. Dia mencatat alkohol bermanfaat sebelum pengelupasan kimia, untuk memastikan penyerapan dan kemanjuran yang maksimal.

Dia menambahkan, alkohol juga dapat mengontrol minyak di kulit wajah.

Kegunaan alkohol ini bisa diseimbangkan dengan toner dan pelembap berbasis gel untuk menyeimbangkan kulit dan mengurangi produksi minyak berlebih.

Kenapa alkohol dapat merusak kulit?

Di samping manfaat alkohol yang sudah disebutkan, Graf tidak menampik jika bahan yang satu ini memiliki efek yang buruk.

Seperti, alkohol dapat menghancurkan lapisan pelindung kulit, mempercepat proses penuaan, dan merusak regenerasi kulit.

Garshick menerangkan, pada tingkat yang lebih rendah alkohol dapat mengeringkan dan menghilangkan kelembapan alami kulit serta meningkatkan sensitivitas.

Hal ini bisa terjadi apabila wajah seseorang mudah berminyak.

Meskipun alkohol bisa mengatur sebum, zat kekuningan yang dihasilkan kelenjar minyak, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi.

Alkohol juga menyebabkan peningkatan produksi minyak untuk mengimbanginya dan pada akhirnya mudah untuk melihat apakah kulit mudah terpengaruh alkohol atau tidak.

Garshick berkata wajah yang tidak cocok dengan alkohol akan kemerahan, mengelupas, kering, sensitif, dan muncul sensasi terbakar.

Perlukah menghindari skincare yang mengandung alkohol?

Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan orang yang sangat memerhatikan kondisi kesehatan kulit mereka.

Tapi, sekali lagi, jawabannya adalah tergantung. Harus diketahui lebih dulu jenis alkohol yang digunakan sebab tidak semua alkohol sama.

Graf menjelaskan bahwa beberapa produk dengan alkohol dapat memberikan banyak manfaat untuk kulit.

“Ini bisa bermanfaat ketika digunakan dalam perawatan spot ketika noda perlu dikeringkan,” ujar Graf yang juga menjadi asisten profesor klinis dermatologi di Mount Sinai School of Medicine.

"Ada juga alkohol 'baik', seperti alkohol berlemak, yang benar-benar dapat mengobati kulit kering dan eksim dengan menambahkan lapisan kelembapan ekstra," tutur dia.

Karena alkohol mempunyai reaksi yang berbeda-beda di tiap orang, maka yang terpenting adalah orang-orang bisa membedakan yang baik dan buruk.

Garshick mencatat, alkohol berlemak, yang mungkin berasal dari sawit atau minyak kelapa, sering ditambahkan ke produk pengental dan tidak akan keras pada kulit.

Alkohol lain yang dianggap lembut termasuk setil, setearil, dan stearil alkohol. Jenis alkohol ini memiliki sifat pengemulsi atau emolien.

Sementara itu, Garshick memeringatkan bahwa bahan yang bisa mengeringkan kulit, seperti etanol, alkohol terdenaturasi, metanol, atau alkohol isopropil harus dihindari.

Khususnya bagi orang-orang yang kulitnya sangat kering, sensitif, atau meradang seperti rosacea.

Jika mereka memaksa menggunakan skincare yang mengandung bahan-bahan itu dikhawatirkan kulit semakin teriritasi.

Yang harus dilakukan ketika alkohol mengiritasi kulit

Jika seseorang mengalami dermatitis atau nyeri setelah menggunakan produk dengan alkohol, Graf menyarankan untuk menghentikan penggunaannya.

Lebih baik beralih ke pelembap yang dapat diandalkan atau petroleum jelly untuk mengembalikan kelembapan.

Garshick meminta orang-orang yang kulitnya tidak cocok dengan alkohol untuk meningkatkan hidrasi di awal rutinitas.

Alasannya adalah pembersih hidrasi yang lembut tidak akan menyakiti dan dapat membantu memperbaiki lapisan pelindung kulit.

Selama masa pemulihan, sebaiknya hindari bahan aktif seperti retinoid, benzoil peroksida, dan bahan pengelupas kimia, karena dapat memperburuk iritasi dan kekeringan.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/01/14/080000520/alkohol-dalam-skincare-haruskah-dihindari-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.