Salin Artikel

Studi: Makanan Olahan Menyebabkan Degenerasi Otak

KOMPAS.com - Makanan olahan atau ultra proses seperti kentang goreng atau burger memang menggoda selera.

Namun jika terlalu sering dikonsumsi, makanan olahan ini bisa meningkatkan risiko penyakit termasuk obesitas, gangguan jantung, diabetes dan kanker.

Studi terbaru mengungkapkan, mengonsumsi makanan ultra proses melebihi 20 persen dari asupan kalori harian dapat menyebabkan penurunan kognitif.

Penurunan kognitif itu terjadi di area otak yang terlibat dalam fungsi eksekutif --kemampuan untuk memproses informasi dan membuat keputusan.

Pria dan wanita yang makan makanan ultra proses memiliki tingkat penurunan kognitif 28 persen lebih cepat dan tingkat penurunan fungsi eksekutif 25 persen lebih cepat.

Hasil tersebut dibandingkan peserta yang makan makanan olahan lebih sedikit.

"Meskipun membutuhkan studi lebih lanjut, hasil baru ini relatif menarik dan menekankan peran penting nutrisi yang tepat dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan otak dan mengurangi risiko penyakit otak seiring bertambahnya usia."

Demikian kata Rudy Tanzi, profesor neurologi di Harvard Medical School dan direktur unit penelitian genetika dan penuaan di Massachusetts General Hospital di Boston, AS. Dia tidak terlibat dalam studi ini.

Tanzi mengatakan, makanan ultra proses cenderung tinggi kadar gula, garam dan lemak.

"Semua itu memicu peradangan sistemik, yang mungkin menjadi ancaman paling utama terhadap penuaan di tubuh dan otak."

"Makanan cepat saji juga menggantikan makanan yang tinggi serat nabati yang penting untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan bakteri dalam mikrobioma usus kita," tambahnya.

"Hal itu penting untuk kesehatan otak dan mengurangi risiko penyakit otak terkait usia seperti penyakit alzheimer."

Lebih dari separuh peserta studi adalah wanita, berkulit putih atau berpendidikan perguruan tinggi, dengan usia rata-rata 51 tahun.

Para peneliti memberikan tes kognitif kepada peserta seperti mengingat kata secara langsung dan tertunda.

Peserta juga dilihat kemampuan dalam pengenalan kata dan kelancaran verbal, dan ditanya tentang diet mereka.

"Di Brasil, makanan ultra proses mencapai 25 persen hingga 30 persen dari total asupan kalori," jelas co-author studi tersebut, Dr Claudia Suemoto.

Suemoto merupakan asisten profesor di divisi geriatri di University of Sao Paulo Medical School.

"Kita memiliki banyak restoran burger, dan kita makan banyak cokelat dan roti putih, tidak jauh berbeda dari kebanyakan negara Barat."

"Sebanyak 58 persen kalori yang dikonsumsi warga Amerika Serikat, 56,8 persen kalori warga Inggris, dan 48 persen kalori warga Kanada berasal dari makanan ultra proses," lanjut Suemoto.

Berdasarkan studi tersebut, makanan ultra proses didefinisikan sebagai zat makanan seperti minyak, lemak, gula, pati dan isolat protein yang hanya mengandung sedikit atau sama sekali tidak mengandung makanan utuh.

Biasanya, makanan ultra proses sudah diberi perasa, pewarna, pengemulsi, dan zat aditif lainnya.

Rekan penulis studi Suemoto, Natalia Goncalves, peneliti di departemen patologi di University of Sao Paulo Medical School memberikan komentar tambahan mengenai hasil studi ini.

"Individu yang mengonsumsi melebihi 20 persen kalori harian dari makanan olahan mengalami penurunan kognitif global 28 persen lebih cepat dan penurunan fungsi eksekutif 25 persen lebih cepat," ungkapnya.

"Itu dibandingkan dengan orang yang makan makanan olahan kurang dari 20 persen."

Bagi individu yang memerlukan asupan 2.000 kalori per hari, 20 persen sama dengan 400 kalori.

Sebagai perbandingan, satu porsi kentang goreng kecil dan burger keju McDonald's mengandung total 530 kalori. Jumlah ini melebihi angka 20 persen.

Temuan studi menunjukkan, sebagian besar dari mereka yang paling banyak mengonsumsi makanan ultra proses adalah:

  • Dewasa muda
  • Wanita
  • Berkulit putih
  • Memiliki status pendidikan dan pendapatan lebih tinggi
  • Cenderung tidak pernah merokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol

"Masyarakat perlu tahu mereka harus lebih sering memasak dan menyiapkan makanan sendiri. Saya tahu kita tidak punya waktu, tetapi sebenarnya memasak tidak memakan banyak waktu," tutur Suemoto.

"Itu sangat berharga karena kita akan melindungi jantung dan menjaga otak dari demensia atau penyakit alzheimer," tambahnya.

"Berhentilah membeli makanan yang diproses secara berlebihan."

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/08/03/080800420/studi--makanan-olahan-menyebabkan-degenerasi-otak

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.