Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Apakah Produk Skincare Alami Benar-benar Baik untuk Kulit?

Skicare berbahan alami ini diklaim lebih baik dan lebih sehat untuk kulit. Namun, apakah bahan-bahan alami dalam skincare benar-benar baik untuk kulit kita?

Terlebih bagi yang memiliki kulit lebih sensitif, produk skincare alami justru dapat membuat kulit alergi dan bahkan juga iritasi.

Nah, untuk mengetahui keamanan produk skincare alami, simak penjelasan selengkapnya seperti yang dilansir dari laman Cleveland Clinic, pada Selasa (15/5/2024) berikut ini.

Mengenal apa itu skincare alami

Alami mengacu pada bahan-bahan yang tidak dibuat di laboratorium dan berasal dari sumber-sumber seperti tumbuhan, tetapi sebenarnya istilah ini tidak cukup jelas.

Apalagi, ada banyak elemen alami yang tidak bisa kita gunakan di wajah. Misalnya, poison ivy, memang ini merupakan bahan alami, tetapi itu bukan bahan skincare yang baik.

Selain itu, ahli alergi, Dr Sandra Hong, MD, mencatat, tidak ada standar yang ditetapkan untuk produk-produk ini, dan tidak ada badan pengawas yang mewajibkan perusahaan membuatnya untuk membuktikan bahwa produk tersebut alami.

Banyak produk yang menyebut diri mereka "alami" juga menggunakan terminologi lain yang dapat membantu kita untuk mengetahui lebih jauh. Misalnya:

  • Bebas pewangi: Produk-produk ini tidak mengandung wewangian alami atau sintetis. Tetapi, bebas pewangi tidak sama dengan tanpa pewangi, yang seringkali berarti bahwa bahan kimia telah ditambahkan untuk menutupi bau bahan lainnya.
  • Hipoalergenik: Istilah ini menunjukkan bahwa suatu produk dibuat dengan bahan-bahan yang tidak menyebabkan reaksi alergi, tetapi belum tentu dapat diandalkan.

Situs web FDA menjelaskan, tidak ada standar atau definisi yang mengatur penggunaan istilah hipoalergenik.

  • Tidak beracun: Kata yang umum ini pada dasarnya adalah istilah pemasaran yang dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan bahwa suatu produk itu aman.
  • Organik: Produk organik menggunakan bahan-bahan yang ditanam tanpa pupuk sintetis, pestisida, atau bahan kimia lainnya.
  • Bebas paraben: Bahan kimia yang mengganggu hormon yang meniru estrogen dalam tubuh ini, digunakan sebagai pengawet dalam banyak produk skincare dan makeup. Bahan kimia ini telah dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti kemandulan dan kanker.
  • Bebas PFAS: Zat per- dan poli-fluoroalkil (PFAS) adalah bahan kimia pengganggu hormon yang dapat memengaruhi tidur, tekanan darah, metabolisme, dan lainnya.
  • Bebas ftalat: Ftalat (phthalate) adalah bahan kimia pengganggu hormon yang terkadang digunakan sebagai bahan pelarut dalam produk skincare dan maekup. Bahan kimia ini dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma, di antara masalah lainnya.
  • Bebas sulfat: Juga dikenal sebagai surfaktan, sulfat adalah bahan kimia yang membuat produk berbusa.

Bagaimana dengan skincare organik?

Menurtut FDA, produk skincare yang menampilkan label "organik" biasanya harus dibuat setidaknya dengan 95 persen bahan pertanian organik.

Sementara itu, produk yang mencantumkan label "100 persen organik" mungkin tidak mencantumkan segel organik, namun harus menampilkan nama dan alamat lembaga yang mengesahkan status organik tersebut.

Sedangkan produk yang berlabel "dibuat dari bahan-bahan organik" harus dibuat dengan setidaknya 70 persen bahan organik.

Itu berarti perusahaan tidak bisa menggunakan kata "organik" secara sembarangan. Tetapi, hanya karena sebuah produk organik, bukan berarti produk tersebut bagus untuk kulit. Sebab, bahan-bahan organik juga dapat menyebabkan masalah bagi banyak orang.

Apakah produk skincare alami sebenarnya baik untuk kulit?

Kata "alami" pada dasarnya hanyalah sebuah tipu muslihat pemasaran, bukan standar yang harus dipenuhi oleh sebuah produk skincare.

Jadi, dalam produk skincare, bahan-bahan yang alami belum tentu lebih baik atau lebih aman.

"Meskipun alami, kita masih bisa mengalami masalah dengan produk tersebut," kata Dr Hong.

"Bahan-bahan seperti minyak dan mineral memang alami, dan kedengarannya bagus. Tetapi, banyak orang yang terkejut ketika mengetahui bahwa mereka menjadi alergi terhadap jenis produk tersebut," terangnya.

Faktanya, sebuah penelitian pada tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir semua produk skincare yang dipasarkan sebagai produk alami sebenarnya mengandung bahan-bahan yang dapat memicu dermatitis kontak.

Reaksi alergi ini menyebabkan gatal-gatal, ruam, dan ketidaknyamanan yang perlu dihindari dengan beralih ke produk alami.

"Penelitian ini mengamati hampir 1.700 produk yang dianggap alami, bersih, sehat untuk kulit, atau baik untuk orang dengan kulit sensitif," ungkap Dr Hong.

"Ditemukan bahwa lebih dari 94 persen dari produk tersebut mengandung bahan yang diketahui dapat menyebabkan dermatitis kontak," jelasnya.

Dermatitis kontak menimbulkan ruam merah yang gatal dan mungkin juga beberapa gejala seperti:

  • Melepuh
  • Bersisik
  • Mengeluarkan cairan
  • Menyakitkan
  • Bengkak

Menurut Dr Hong, terkadang hanya dengan satu kali pemakaian produk bisa mengakibatkan penderitaan selama berminggu-minggu.

Bahkan setelah kita menghapus produk dari rutinitas skincare, dibutuhkan waktu hingga tiga minggu untuk mengatasi dermatitis kontak.

Meskipun dermatitis kontak dapat hilang dengan sendirinya, tetapi kita juga berkonsultasi dengan dokter jika ruam:

  • Tampaknya semakin memburuk
  • Berlangsung selama lebih dari tiga minggu
  • Memengaruhi mata atau mulut
  • Membuat kita tidak dapat fokus atau tidur

"Jadi, sangat penting menemui dokter atau ahli kesehatan kulit untuk menentukan apa yang menyebabkan masalah ini dan untuk mengobati gejala-gejala yang kita alami," kata Dr Hong.

"Terkadang, orang perlu melakukan uji tempel untuk menentukan apa yang menyebabkan reaksi alergi mereka," sarannya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2024/05/15/143000920/apakah-produk-skincare-alami-benar-benar-baik-untuk-kulit-

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke