Kuasai "Teknik Bercerita" Jika Mau Jual Barang Laris-Manis...

Kompas.com - 27/02/2018, 19:00 WIB
Desainer dan pendiri JKTCreative Iwet Ramadhan saat peluncuran fitur Kreasi Nusantara dari Shopee, Jakarta, Selasa (27/2/2018). KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYADesainer dan pendiri JKTCreative Iwet Ramadhan saat peluncuran fitur Kreasi Nusantara dari Shopee, Jakarta, Selasa (27/2/2018).
JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki produk bagus tak menjamin akan mendapatkan angka penjualan yang juga bagus. Semua tergantung dari teknik pemasaran yang dilakukan.
 
Di era dengan jumlah pengusaha yang beragam dan penjualan dalam jaringan yang 'gila-gilaan', dibutuhkan cara yang menarik untuk menarik minat pembeli.
 
Nah, teknik marketing storytelling atau pemasaran dengan bercerita dapat memberikan poin tambah bagi produk, yang pada gilirannya meningkatkan angka penjualan.
 
Menurut Desainer sekaligus pendiri JKTCreative Iwet Ramadhan, metode ini kian pas dengan era teknologi cepat, karena dapat dipahami orang dengan cepat pula.
 
 
Bagaimana ide itu bisa terjadi?
 
Perlu dipahami lebih dulu bahwa cara memasarkan produk ini mengedepankan teknik bercerita, entah itu historis produk, proses pembuatan, atau siapa pembuat produk itu.
 
Meskipun bukan cara baru, teknik ini ternyata sukses dipakai oleh merek-merek ternama dan mewah.
 
Iwet mencontohkan Hermes dengan historis pembuatan tas Birkin--mulai dari bahan yang digunakan hingga proses pembuatan.
 
"Sehingga saat orang beli produknya, mereka akan apresiasi. Misalnya 'oh ya, prosesnya lama'," kata Iwet kepada Kompas Lifestyle.
 
Iwet mengungkapkan hal itu  saat peluncuran Kreasi Nusantara dari Shopee, Jakarta, Selasa (27/2/2018).
 
Cara ini disebut ampuh lantaran mampu melihat pergeseran minat masyarakat saat membeli.
 
Iwet mengatakan para pembeli kian jenuh dengan produk-produk yang dijual hardselling atau tanpa pendekatan.
 
 
Karena itu, cara ini dianggap berpotensi bila dapat dilakukan dengan baik. Apalagi, katanya, Indonesia memiliki produk-produk yang memiliki nilai sejarah, entah makanan, busana atau barang-barang lain.

Lantas, bagaimana memulainya?

Iwet menyarankan kalau kita harus lebih dulu mengetahui produk tersebut hingga sejarahnya.

Cara kedua adalah memikirkan bagaimana menuangkannya. Sebab, tak sedikit orang yang bingung menuangkan, meskipun sudah menguasai produk.

Karena itu, Iwet mengatakan para penjual harus mau belajar, entah itu menulis atau membuat video untuk menuangkan cerita-cerita produknya.

"Ini akan jauh lebih berhasil dibandingkan cara menjual 'dijual gelang tenun harga Rp 100.000'. Akhir-akhirnya bakal ih mahal banget," ungkap Iwet.

Baca juga: Biaya Hidup Itu Murah, Biaya Pamer Mahal



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X