Seperti "Ngopi", Akankah "Ngeteh" Jadi Tren?

Kompas.com - 08/03/2018, 15:00 WIB
Ilustrasi teh hijau. ThinkstockphotosIlustrasi teh hijau.

JAKARTA, KOMPAS.com - "Memang mulai banyak gerakan yang menyebut bahwa tea become the new coffee."

Kalimat itu meluncur dari mulut Gupta Sitorus, editor Majalah Kenduri, dalam kapasitasnya sebagai pengamat pengamat makanan dan minuman (food and beverage).

Gupta menyampaikan pandangannya ini di sela peluncuran produk Caaya, teh Indonesia oleh Danone- Aqua di Jakarta, Rabu (7/3/2018) kemarin.

Secara umum, kata Gupta, hampir semua sektor bisnis berubah karena dampak kaum milenial.

Kelompok milenial mengubah tren traveling, fesyen, bahkan pola konsumerisme seperti belanja konvensional menjadi online.

Hal yang serupa pun terjadi pada industri makanan dan minuman.

Baca juga: Sudahkah Kita Minum Teh Hari Ini?

Riset AC Nielsen sekitar tiga tahun lalu, kata Gupta, menyebutkan, kelompok milenial adalah generasi yang paling hijau, serta sangat peduli dengan kesehatan dan fisik.

Banyak bar dan klub malam tutup sejak 2-3 tahun terakhir, karena karakter milenial yang lebih senang nongkrong, baik dengan keluarga maupun teman, untuk minum teh atau kopi.

Kedai kopi pun menjamur di mana-mana. Tapi ternyata, tren serupa kini juga beralih pada teh.

"Pada tiga tahun ini, tumbuh banyak tea house di Jakarta. Seperti Jalan Bumi, Kota, Kemang," tutur Gupta.

Kegemaran akan teh tersebut tak terlepas dari globalisasi yang melanda dunia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X