Kompas.com - 12/04/2018, 12:14 WIB

KOMPAS.com - Tidur merupakan salah satu hal terpenting untuk memiliki tubuh sehat. Saat kita cukup istirahat, kondisi fisik dan mental akan prima. Tetapi, memang tak semua orang bisa beruntung bisa mendapatkan tidur dengan mudah.

Dampak kurang tidur yang paling mudah terlihat adalah bad mood, kulit kusam, perfoma yang buruk hingga kelelahan. 

Walau kita sering kurang mendapatkan cukup tidur, jangan lantas menyebut diri insomnia. Apalagi jika dilakukan terus-menerus, justru membuat masalah tidur makin parah.

Dalam studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Behavior Research and Therapy, psikolog Kenneth Lichstein menyebutkan, insomnia tak sekadar gangguan tidur, tapi juga gangguan appraisal kognitif.

Studi yang berjudul "Insomnia Identity" meneliti perbedaan antara label dan kondisi insomnia yang sebenarnya.

“Mungkin ada banyak orang di luar sana menderita (insomia) karena label yang diciptakan sendiri, daripada memang benar-benar menderita kondisi tersebut,” tulis Lichstein seperti dikutip dari Readers Digest.

Studi ini mengkaji 20 penelitian yang mengukur kondisi kekurangan tidur dan kondisi insomnia karena label mereka sendiri. Hasilnya, ada sangat sedikit tumpang tindih di antara keduanya. 

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa orang yang memang kekurangan tidur tidak  melabeli diri mereka sebagai penderita insomnia.  Karena itu, mereka tidak mengalami kelelahan atau kecemasan di hari berikutnya.

Studi lain juga menemukan, terlepas dari fakta kurang tidur biasanya terkait dengan risiko kenaikan tekanan darah tinggi, orang-orang yang tidak melabeli diri mereka sebagai penderita insomnia tidak mengalami kondisi tersebut.

Sebaliknya, studi menemukan orang yang tidur nyenyak tetapi menganggap diri penderita insomnia cenderung bangun dengan kelelahan, depresi, kecemasan, dan hipertensi.

Temuan Lichstein mengungkapkan realitas yang sangat menarik, di mana meskipun tidur adalah fungsi biologis, kita dapat mengelabui otak sementara waktu dengan berpikir jika mengalami insomnia dan mengalami dampaknya, atau berpikir tidur nyenyak dan bangun dengan keadaan segar setiap pagi.

“Merasa khawatir terus menerus dengan tidur yang buruk merupakan patogen yang lebih kuat daripada gangguan tidur sebenarnya. Persepsi tersebut menciptakan realitas,” ungkapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.