Punya Anak

Kompas.com - 08/06/2018, 21:21 WIB
Ilustrasi pasangan dan anaknyaDragonImages Ilustrasi pasangan dan anaknya

Seorang teman saya yang sudah belasan tahun menikah belum punya anak. Ia memang punya beberapa masalah kesehatan sehingga sulit untuk bisa hamil. Ia mencoba berobat ke dokter ahli, menjalani terapi, namun sejauh ini hasilnya nihil.

Mengapa kita ingin punya anak? Secara alami punya anak itu membahagiakan. Bisa dikatakan ini bagian dari naluri manusia. Manusia senang berhubungan seks, yang pada umumnya menjadi sarana reproduksi. Lalu manusia juga senang punya anak. Naluri ini memastikan manusia punya keturunan.

Tapi alam juga menghadirkan anomali. Ada orang-orang yang justru tidak ingin punya anak. Celakanya, ia justru mendapat anak. Kita sering menyaksikan orang menolak bayi yang terlanjur dikandungnya, sampai tega membunuhnya.

Jadi, apakah punya anak itu membuat bahagia? Ya, umumnya begitu. Tapi ingat, kebahagiaan sendiri punya hukum dasar. Hukum dasarnya adalah, bukan suatu benda, atau suatu kejadian yang membuatmu bahagia atau tidak bahagia, melainkan bagaimana kau bersikap terhadap benda atau kejadian itu.

Orang umumnya bahagia punya anak. Kalau melihat bayi kita merasa nyaman, ada dorongan untuk menyentuh dan memeluknya. Kita kemudian merasa bahagia.

Tapi ada situasi tertentu yang membuat orang tidak bahagia kalau dia punya anak. Namun sekali lagi, itu pun tetap kembali pada bagaimana ia bersikap. Ada orang yang harus menghadapi masalah yang sulit karena ia punya anak, tapi itu tak membuat ia membenci anaknya.

Punya anak membuat bahagia. Tidak punya anak, membuat orang tidak bahagia. Tapi bisa juga punya anak membuat tidak bahagia. Ingat kembali hukum dasar kebahagiaan tadi.

Ada banyak hal yang bisa memicu kebahagiaan. Maka orang mengejarnya. Namun ada begitu banyak orang yang sibuk mengejar pemicu itu, sampai lupa pada hal yang hakiki dan jauh lebih sederhana, bahwa kebahagiaan itu sumbernya ada dalam diri kita, dalam pikiran kita.

Agak melenceng sedikit, mari kita lihat pemicu kebahagiaan yang ekstrem: narkotika. Mengapa banyak orang menjadi pecandu narkotika? Karena narkotika itu membuat bahagia. Narkotika adalah contoh ekstrim tentang bagaimana mekanisme kebahagiaan itu bekerja.

Orang merasa bahagia kalau ada hormon tertentu mengalir dalam darahnya, misalnya endorpin, oxytosin, serotonin. Hormon itu dihasilkan dari aktivitas tertentu. Oxytosin, misalnya, adalah hormon yang dihasilkan saat manusia mengalami sesuatu yang intim, bersentuhan, atau berhubungan seks.

Jadi, sebenarnya bukan hubungan seks yang membuat orang bahagia, melainkan apakah hubungan seks itu menghasilkan oxytosin atau tidak.

Perkosaan adalah hubungan seks, tapi itu tidak membahagiakan. Demikian pula hubungan seks komersial, tidak menimbulkan kebahagiaan di pihak penjualnya. Dalam hal ini pemicu kebahagiaan penjual bukan hubungan seks, tapi imbalan uang yang ia peroleh.

Halaman:



Close Ads X