Punya Anak

Kompas.com - 08/06/2018, 21:21 WIB
Ilustrasi pasangan dan anaknya DragonImagesIlustrasi pasangan dan anaknya
Editor Wisnubrata

Jadi, sebenarnya bukan hubungan seks yang membuat orang bahagia, melainkan apakah hubungan seks itu menghasilkan oxytosin atau tidak.

Perkosaan adalah hubungan seks, tapi itu tidak membahagiakan. Demikian pula hubungan seks komersial, tidak menimbulkan kebahagiaan di pihak penjualnya. Dalam hal ini pemicu kebahagiaan penjual bukan hubungan seks, tapi imbalan uang yang ia peroleh.

Dengan cara ekstrim tadi, kebahagiaan bisa diperoleh tanpa melalui mekanisme konvensional tadi. Kita bisa melakukan by pass, dengan injeksi kimia, yaitu narkotika.

Narkotika seperti kokain dan amphetamine bisa memicu dopamine, yang nantinya akan memicu oxytosin. Dengan narkotika orang bisa mendapat kenikmatan seperti senggama, bahkan bisa jauh lebih nikmat, karena kadar oxytosin yang dihasilkan jauh lebih banyak.

Tentu saja saya tidak sedang menganjurkan orang untuk memakai narkotika. Pemahaman tentang cara kerja narkotika akan memberikan kita pemahaman tentang mekanisme kebahagiaan.

Sederhananya, semua ada di otakmu. Pengendali kebahagiaanmu adalah pikiranmu. Maka, kendalikan pikiranmu, arahkan pada cara berpikir yang membuatmu bahagia.

Dalam hal punya anak, kita sama-sama tahu bahwa punya anak itu membuat bahagia. Maka berusahalah untuk punya anak. Menikahlah, dan bercintalah, kau akan punya anak. Kalau belum dapat juga, berusahalah.

Usaha untuk punya anak itu adalah usaha yang logis. Sama seperti soal kebahagiaan tadi, mekanismenya sudah kita ketahui. Sel sperma bertemu sel telur, terjadi pembuahan. Lalu telur yang sudah dibuahi itu ditempatkan dalam rahim.

Orang yang tidak hamil sebabnya antara lain adalah:
1. Sel telurnya tidak ada.
2. Sperma tidak bisa mencapai sel telur.
3. Rahim tidak bisa menjadi “rumah yang ramah” bagi telur yang sudah dibuahi.

Ada banyak hal detil tentang ketiga hal itu. Bahkan ketiganya bisa hadir secara bersamaan secara rumit. Tapi serumit apapun, masalah hanya bisa diselesaikan kalau kita tahu sebab utamanya, dan kita mengambil tindakan untuk mengatasinya. Kalau tindakan cocok, maka masalah bisa diselesaikan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X