Kompas.com - 13/06/2018, 10:45 WIB
Ilustrasi kedelai Ilustrasi kedelai

Oleh karena itu, mungkin ada faktor tambahan yang memengaruhi hasilnya.

"Kami tidak mungkin menerapkan hasil riset yang hanya memakai satu subyek penelitian untuk  populasi yang lebih besar," katanya.

Hasil yang sama juga diperoleh dalam riset tahun 2000 yang menggunakan subyek riset berupa tikus jantan.

Tikus tersebut diberi dosis tinggi isoflavon pada bagian perutnya.

Isoflavon merupakan senyawa yang banyak terkandung dalam kacang kedelai dan produk kedelai.

Setelah itu, didapati organ seksual subyek riset mengalami perkembangan yang lambat.

Baca juga: Jangan Takut Konsumsi Kedelai, Berikut Manfaatnya...

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, kita semua tahu jika tikus dan manusia memiliki banyak perbedaan.

Oleh karena itu, Lambert juga tak memercayai hasil riset ini.

Menurut ahli gizi  Nichola Ludlam-Raine, banyak orang yang salah paham dengan menganggap kedelai sebagai penyebab ketikdakseimbangan hormon.

Bahkan, mereka berpikir kedelai dapat menghambat produksi testeron.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.