"Demam Tenun Tak Hanya Rambah Pasar 'Lifestyle', tapi Juga Korporasi"

Kompas.com - 10/07/2018, 09:00 WIB
Desainer Didiet Maulana saat ditemui sesuai peluncuran seragam baru berbahan kain tenun BCA di Menara BCA, Senin (9/7/2018). KOMPAS.com/Nabilla TashandraDesainer Didiet Maulana saat ditemui sesuai peluncuran seragam baru berbahan kain tenun BCA di Menara BCA, Senin (9/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi pencinta fesyen, kain tenun sudah sejak lama menjadi idola. Namun, Desainer Didiet Maulana melihat demam tenun kini sudah semakin meluas.

Tak hanya bagi mereka yang menggemari fesyen, namun juga pihak korporasi.

"Fashion trend dunia banyak yang mengapresiasi motif tenun ikat. Okenya juga, demam tenun dari 2011 sampai sekarang tidak hanya merambah pasar lifestyle tapi juga pasar korporasi mulai masuk," kata Didiet.

Hal itu diungkapkan Didiet pada acara peluncuran seragam baru BCA berbahan dasar kain tenun, hasil kolaborasi Didiet dan BCA.

Baca juga: Starbucks Luncurkan Merchandise Motif Tenun Cepuk dari Bali

Didiet mengaku berupaya konsisten untuk membangun semangat kolaboratif yang tinggi antara dia sebagai desainer, bersama korporasi.

Untuk itulah lini seragam "Sarupa" dibuatnya.

Ia menerangkan, Sarupa berasal dari kata Bahasa Indonesia "serupa", yang memiliki makna meski berbeda, namun tetap disatukan lewat desain.

Seragam korporasi bermotif tenun BCA hasil kolaborasi dengan Desainer Dididet Maulana diluncurkan di Menara BCA, Senin (9/7/2018). KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Seragam korporasi bermotif tenun BCA hasil kolaborasi dengan Desainer Dididet Maulana diluncurkan di Menara BCA, Senin (9/7/2018).

Lebih jauh, ia melihat kepedulian dunia korporasi terhadap lingkungan semakin tinggi.

Korporasi, menurut dia, juga melihat tenun sebagai sesuatu yang baru dan unik untuk dikolaborasikan dengan kebutuhan mereka.

"Siapa pun mereka yang melihat ini sebagai hal unik dan baru, pasti ingin sekali related dengan itu," kata Didiet.

Baca juga: Kreasi Tenun Didiet Maulana yang Berjiwa Anak Muda

Di samping itu, tenun saat ini juga menjadi salah satu tren di dunia fesyen Indonesia.

Sebuah perusahaan, meskipun sudah berusia puluhan tahun, namun akan cenderung menjaga relevansinya dengan hal kekinian.

"Jadi pasti setiap korporasi ingin relevan dengan keadaan sekarang. Salah satunya membuat tenun jadi pilihan," ucap lelaki lulusan Arsitektur itu.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X