Rokok Vape Tidak Aman Dikonsumsi

Kompas.com - 25/01/2019, 11:59 WIB
Ilustrasi vape. ThinkstockphotosIlustrasi vape.

KOMPAS.com — Banyak orang menganggap rokok elektrik atau yang juga dikenal dengan sebutan "vape" tidak seberbahaya rokok tembakau.

Keliru jika menganggap vape adalah sesuatu yang lebih aman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan tidak ada rokok, baik tembakau maupun vape, yang aman dikonsumsi.

Ketahui apa saja efek dari penggunaan rokok elektrik ini pada tubuh.

1. Lebih sedikit karsinogen daripada rokok biasa

Sebuah penelitian memang menunjukkan rokok vape mampu menurunkan risiko terkena paparan racun dan karsinogen.

Uap yang keluar dari vape tidak berbahaya, kandungan bahan kimianya juga jauh lebih sedikit dibanding rokok yang mencapai ribuan. Hal ini disebabkan reaksi kimia tersebut tidak dapat dihasilkan dari proses pembakaran.

Namun, kebanyakan orang mengisap vape hanya pada bagian atas dan ini membuat bahan kimia yang diserap lebih banyak. Mengisap vape hingga tetes terakhir menimbulkan masalah kesehatan baru.

“Ketika vape kering (mengisap hingga tidak ada cairan tersisa dalam) untuk dipanaskan dan menghasilkan uap, maka pembakaran tersebut akan memicu munculnya sejumlah racun,” kata Jonathan Foulds PhD, profesor di bidang ilmu kesehatan masyarakat dan psikiatri yang mempelajari para perokok dan konsumen produk tembakau di Penn State University.

Dokter ahli jantung Stanton Glantz menjelaskan bahwa vape dan rokok tembakau biasa memproduksi campuran racun yang berbeda.

Baca juga: Betulkah Vape Bisa Bikin Gigi Kuning Seperti Rokok?

 2. Juga merusak paru-paru

Sebuah studi besar tahun lalu pada Annual Review of Public Health menemukan bahwa penggunaan vape juga membuat tubuh terpapar racun dan partikel ultrafine level tinggi yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kanker paru-paru serta penyakit kardiovaskular lainnya.

Dua zat kimia yang terkandung dalam vape cair, yaitu propylene glycol dan vegetable glycerin, adalah komponen yang sama yang digunakan untuk mesin uap.

Studi terdahulu juga menemukan bahwa pekerja di dunia hiburan yang sering terpapar zat tersebut memiliki risiko sulit bernapas yang lebih tinggi, dada sesak, dan asma.

Merokok dengan vape juga berpotensi menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi.

Fakta ini hanyalah ujung fenomena gunung es. Sebab, sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard pada 2017 menganalisis setiap rasa vape yang berbeda dari berbagai merek dan menemukan setidaknya ada satu aldehid atau zat kimia rasa yang masuk dalam daftar bahan berbahaya.

Kebanyakan zat kimia penambah rasa pada vape sebetulnya telah mendapatkan persetujuan FDA untuk penggunaan pada makanan, tetapi tidak bagi vape.

“Memanaskan rasa tersebut dan mengisapnya berpotensi merobek paru-paru,” kata Glantz.

Baca juga: Vape Ekstasi Produksi Kelapa Gading Sempat Dijual dengan Sistem MLM

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X