BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Siloam Hospitals

Waspadai Faktor Risiko Stroke Sejak Muda

Kompas.com - 18/02/2019, 15:54 WIB
Ilustrasi gejala stroke Dok. ShutterstockIlustrasi gejala stroke

KOMPAS.com - Seorang pasien mengalami gejala stroke dengan wajah sebelah kiri yang agak mencong. Ia datang ke rumah sakit di sore hari. Setelah diperiksa, penyebabnya karena ada pembuluh darah otak yang tersumbat.

Dokter rumah sakit yang bertugas diberitahu bahwa gejala tersebut terjadi sejak pagi, yang berarti pasien sudah lebih dari 4,5 jam menderita sejak gejala mulai muncul. Hal itu sangat disayangkan, sebab periode emas 4,5 jam sudah berlalu. 

Padahal, pada periode itu gejala stroke masih memungkinkan pasien untuk segera diberi obat.

Bila penyumbatan segera ditangani dan diobati, aliran darah dapat lancar kembali dan proses pemulihan stroke bisa lebih cepat.

Kejadian itu sungguh dialami oleh salah satu pasien saraf Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, seperti yang diterangkan oleh dokter Vivien Puspitasari, Sp.S.

Kerenanya, Vivien menenekankan penting bagi masyarakat untuk bisa menyadari tanda-tanda gejala stroke agar pasien yang bersangkutan bisa segera ke rumah sakit.

Stroke merupakan penyakit kegawatdaruratan seperti penyakit jantung.

Angka kejadian stroke di Indonesia bahkan semakin meningkat, termasuk pada orang berusia yang semakin muda di bawah 50 dan 40 tahun. Peningkatan tersebut terpapar dalam Riset Kesehatan Dasar 2018. 

Seiring bertambahnya usia, terlihat bahwa risiko kejadian stroke semakin besar. Melalui perbandingan data lima tahun lalu, angka stroke naik pada setiap jenjang usia.

Misalnya, kini di usia 45-54 tahun angka kejadian mencapai 14,2 per mil yang artinya pada setiap 1000 orang ada 14 orang yang terkena stroke. Pada rentang usia selanjutnya di 56-64 tahun, kejadian stroke jadi 32,4 per mil.

Menurut dokter Vivien Puspitasari, penyebab peningkatan tersebut yakni faktor risiko stroke yang juga semakin banyak. 

Faktor risiko yang memicu stroke antara lain diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok sejak muda. Dampak dari pola hidup yang tidak sehat akan terasa seiring bertambahnya usia dan menimbulkan faktor risiko stroke ini. 

“Faktor risiko stroke memicu adanya penyumbatan di pembuluh darah otak. Contohnya kolesterol bisa membuat penumpukan lemak dan gumpalan darah penyempitan pembuluh darah,” ujar Vivien, Senin (13/11/18).

Tak ada tanda-tanda

Kejadian stroke selalu muncul mendadak, tanpa ada tanda-tanda tertentu. Bentuknya bisa berupa stroke ringan bisa pula stroke berat. Bisa disebabkan adanya penyumbatan di pembuluh darah otak, bisa juga karena adanya perdarahan akibat pembuluh darah otak yang pecah.

“Stroke sebelum ada penyumbatan tidak memiliki tanda-tanda. Yang penting adalah mendeteksi faktor risiko dan mungkin saja tidak bergejala juga. Namun, untuk mengetahui itu makanya penting untuk melakukan pemeriksaan ( medical check up)” jelas Vivien.

Ilustrasi gejala strokeDok. Shutterstock Ilustrasi gejala stroke
Pemeriksaan bisa meliputi tes kadar kolesterol, kadar gula darah, tekanan darah, fungsi ginjal dan fungsi hati. Dari situlah seseorang dapat mengontrol faktor risiko stroke.

Contohnya, jika terukur memiliki obesitas, maka berat badan harus dikontrol agar tidak mengarah pada kolesterol tinggi dan penyakit lain yang menjadi faktor risiko stroke.

Vivien pun menyarankan, walau tidak ada keluhan, orang berusia di atas 40 tahun sebaiknya lakukan medical check up setiap enam bulan.

Penanganan penting

Gejala awal stroke bisa dilihat dengan tanda-tanda bagian muka yang mendadak mencong, tangan atau kaki yang lemah, dan gangguan bicara. Kalau sudah begitu, maka segeralah ke rumah sakit.

Ada penanganan yang berbeda pula pada kasus stroke. RS Siloam pun memiliki tim stroke khusus apabila akan ada pasien stroke yang akan tiba.

“Ada code stroke yang membuat semua harus siap. Mulai dari ambulans yang jemput dan datang, CT Scan di rumah sakit, kesiapan labotatorium dan tim gawat darurat yang sigap. Melalui pemeriksaan cepat dari CT Scan, nantinya bisa terlihat kalau misalnya strokenya penyumbatan, bukan pendarahan dan bisa disuntikkan obat,” jelas Vivien.

Peralatan medis berupa Magnetic Resonance Imaging (MRI) 3 Tesla dan Dual Source CT Scan pada Neuro Science Centre dapat mendeteksi kelainan di otak, termasuk penyumbatan pembuluh darah stroke.

Ilustrasi gejala strokeDok. Shutterstock Ilustrasi gejala stroke
Berbeda lagi penanganannya bila stroke akibat pecah pembuluh darah. Ketika pendarahan luas dan pasien secara klinis ada penurunan kesadaran, operasi harus segera dan cepat dilakukan.

Atur pola hidup sehat

Pola hidup sehat menjadi cara pencegahan primer untuk hindari stroke beserta faktor risikonya. 

Perlu diingat asupan makanan harus seimbang, antara karbohidrat, lemak, dan juga serat. Perbanyak sayur karena ada kandungan antioksidan yang dapat mengurangi penumpukkan lemak. 

Selain itu, hindari stres dan rutin bergerak atau olahraga.

“Jika makan yang terlalu tinggi kalori sehingga terlalu banyak karbohidrat,dan lemak, akhirnya asupan dalam tumbuh tidak seimbang, ditumpuk, dan pembuluh darah yang kena,” jelas Vivien. 

Kemudian, pola makan yang tinggi garam dan asin cenderung memicu tekanan darah tinggi. Pembuluh darah pun kaku, tidak elastis, dan bisa pecah.

Selain itu, hindari pula kebiasaan merokok. Tar dan nikotin dalam rokok dapat merusak pembuluh darah.

“Jadi, pembuluh darah ada keraknya. Kalau di keraknya ada luka, itu akan membuat bekuan darah. Bekuan darah itu bisa lepas dan menyumbat pembuluh darah,” ujar Vivien kembali. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya