Tanda-tanda Bayi Bahagia

Kompas.com - 14/10/2019, 20:48 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com – Sebagai orangtua biasanya kita sudah bisa mengenali tanda (dan suara) bayi yang tidak bahagia. Misalnya saja lewat tangisannya yang keras. Sebaliknya, tanda-tanda si kecil bahagia lebih sulit diketahui.

Apalagi, bayi baru menunjukkan tanda bahagia yang umum, seperti tersenyum, sampai ia berusia sebulan.

Tanpa perlu menebak-nebak, sebenarnya ada beberapa tanda bayi merasa bahagia di awal kehidupannya.

- Baru lahir
Melihat wajah dan mendengar suara ibu dapat menenangkan bayi. Walau begitu, jangan berharap ia akan memandang Anda dengan mata berbinar-binar. Besar kemungkinan hanya akan menatap wajah ibunya dengan pandangan datar.

“Saat baru lahir, kemampuan bayi untuk menunjukkan emosi positifnya hanya berupa menatap wajah orangtuanya dengan damai. Cara bayi berkomunikasi hanyalah menangis atau diam. Saat ia menatap wajah kita, ia sebenarnya mengatakan bahwa hidupnya bahagia,” kata pendiri Baby Signs Inc, Linda Credolo Ph.D.

- Usia 0-3 bulan
Ketika bayi menyesuaikan tubuhnya dengan lengan orang yang menggedongnya dan tidak melengkungkan badannya, itu adalah tanda ia merasa nyaman.

Di usia ini, sumber kebahagiaan bayi adalah jika kebutuhan dasarnya terpenuhi: Orangtua merespon tangisannya, memberinya makan, mengganti popoknya, dan menidurkannya.

Baca juga: Kenali 7 Tanda Autisme pada Bayi dan Balita

- Usia 1-3 bulan
Ketika bayi berusia 4-10 minggu, ia mulai tersenyum secara spontan sebagai reaksi pada sesuatu yang dilakukan orangtuanya padanya. Sebelumnya bayi hanya tersenyum ketika ada hal-hal internal yang membuatnya nyaman, misalnya buang gas, atau refleks tersenyum (saat tidur).

- Usia 3-6 bulan
Senyumannya berkembang menjadi tawa,, terutama karena sentuhan dan stimulasi dari ibunya. Misalnya saat ibunya menggosokkan ujung hidungnya ke hidungnya, atau menggelitik telapak kakinya.

- Usia 4-7 bulan
Pada awalnya, “ucapan” adalah seri dari suara konsonan yang dirangkai bersama. Bayi belajar suara-suara itu dari mendengarkan intonasi suara orang di sekitarnya.

“Ketika bayi mengeluarkan nada-nada tinggi, mereka sedang menunjukkan ketertarikan pada sesuatu atau rasa senangnya berinteraksi dengan ibunya,” kata peneliti kognisi dan komunikasi bayi, Athena Vouloumanos.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Parents
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X