BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Sun Life

Tak Hanya Senang-Senang, Liburan Juga Bisa Cegah Penyakit Kronis

Kompas.com - 04/11/2019, 16:17 WIB
ilustrasi suasana bekerja di kantor Unsplash.com/@marvelousilustrasi suasana bekerja di kantor

KOMPAS.com - "Brakkkk." Sebuah mesin fotokopi terlihat dilempar begitu saja ke tengah lapangan tanah yang luas. Tiga orang pria berkemeja kantoran satu per satu berjalan mengeliling benda tersebut. Salah seorang dari mereka membawa tongkat baseball.

Selang beberapa detik, dengan segenap emosi pria-pria tadi merusak mesin itu secara bergantian.

Tendangan, injakan, dan pukulan tongkat mereka layangkan ke benda mati tersebut. Lama-lama, mesin fotokopi itu hancur berkeping-keping.

Diketahui, ketiga pria yang bernama Peter Gibbons, Samir, dan Michael Bolton adalah karyawan perusahaan perangkat lunak bernama Initech.

Sementara itu, mesin fotokopi tadi menjadi salah satu pemicu stres mereka di kantor selama ini. Kendati sangat dibutuhkan, namun benda tersebut acap kali tak berfungsi dengan baik saat digunakan.

Itu baru satu, belum masalah lainnya, seperti bos dan rekan kerja yang menyebalkan, terbitnya peraturan efisiensi karyawan, dan padatnya pekerjaan.

Dengan kondisi tersebut, wajar bila ketiga pria tadi terlihat begitu kesal. Bahkan, bila Anda menonton langsung film Office Space rilisan 1999 ini, mungkin Anda akan memaklumi perasaan Peter, Samir, dan Michael.

Stres di tempat kerja

Meski cerita di atas hanyalah film, namun apa yang terjadi kepada Peter, Samir dan Michael banyak dialami para pekerja di kehidupan nyata. Mereka mengalami stres akibat tekanan pekerjaan.

Merujuk Badan Kesehatan Dunia (WHO), 1 dari 7 orang mengalami gangguan kesehatan jiwa di kantor.

Sementara itu, bila dikaitkan dengan era digital seperti sekerang ini, di mana waktu dan ruang tak lagi bersekat, jam kerja terasa semakin panjang.

Bahkan, tanpa perlu ke kantor, Anda bisa kerja di manapun dan kapanpun. Kondisi ini menjadikan tak ada lagi ruang pribadi, bahkan sekadar mengistirahatkan diri.

Di Indonesia, Organisasi Buruh Dunia (ILO) menemukan 26,3 persen pekerja di Indonesia ternyata mengalami kelebihan jam bekerja, yaitu lebih dari 49 jam dalam seminggu.

Padahal Undang-Undang Nomor 13 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan, maksimal jam kerja adalah 40 jam per pekannya, baik bagi pekerja dengan lima hari kerja maupun pekerja dengan enam hari kerja.

Bila kondisi tersebut dibiarkan, kehidupan relasi, kesehatan, dan kebahagiaan secara umum bisa jadi taruhannya.

ilustrasi berlibur Unsplash.com/@pazarando ilustrasi berlibur

Cuti liburan harga mati

Untuk menghindari hal tersebut terjadi, Anda butuh rehat dari pekerjaan guna mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Nah, dari sekian banyak pilihan kegiatan rehat, berwisata bisa jadi pilihan Anda.

Pasalnya, merujuk Intisari Grid, Minggu (11/8/2019) ada banyak manfaat yang Anda rasakan dari berlibur.

Pertama, berlibur akan memberikan Anda perasaan bahagia. Ini karena selama liburan Anda tidak akan dihadapkan dengan tekanan rutinitas pekerjaan.

Dengan begitu, Anda mendapatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal.

Bahkan, emosi positif yang dihasilkan dari kegiatan berlibur mampu bertahan hingga berminggu-minggu kemudian. Hasilnya, kesehatan mental Anda jauh lebih baik.

Kedua, Anda bisa menjadi lebih produktif. Ini dibuktikan dalam survei yang dimuat dalam Harvard Business Review.

Studi tersebut menyebutkan, karyawan yang berlibur ternyata bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih mudah. Mereka pun bekerja lebih produktif dibandingkan rekan-rekannya yang tidak berlibur.

Tak hanya itu, rasa bahagia karena liburan akan meningkatkan kinerja otak dan berdampak positif pada pekerjaan Anda.

Ketiga, menurunkan risiko gangguan psikologis, seperti depresi dan masalah kecemasan.

Sebab, kegiatan berlibur menjauhkan Anda dari orang-orang dan aktivitas yang memicu produksi hormon kortisol penyebab stres.

Tak perlu waktu lama, liburan singkat selama tiga hari saja sudah dapat menurunkan hormon stres dan membuat pikiran Anda terasa jernih kembali.

Keempat, dapat meningkatkan kreativitas. Ini karena saat liburan Anda akan menemui orang-orang baru, budaya berbeda, bahkan makanan baru yang sama sekali belum pernah Anda jumpai sebelumnya.

Semua pengalaman tersebut membuat wawasan Anda menjadi lebih luas dan beragam. Inilah yang akan memancing inspirasi baru dan memicu timbulnya kreativitas.

Liburan, sehat pikiran dan sehat tubuh

Tak hanya berdampak bagi kesehatan pikiran, liburan secara tidak langsung akan membuat tubuh terasa jauh lebih fresh.

Bahkan, menjauhkan Anda dari risiko penyakit akibat stres, seperti penyakit jantung koroner, maupun serangan jantung mematikan.

Hal tersebut diungkapkan dalam riset Framingharm Heart Study (2010). Menurut studi ini, orang yang berlibur secara teratur lebih kecil kemungkinannya terkena serangan jantung.

Jadi, jangan pernah meremehkan kekuatan berlibur karena siapa sangka manfaatnya bisa berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Meski begitu, bukan berarti dengan liburan Anda bisa terbebas dari potensi terkena penyakit. Anda tetap harus menerapkan gaya hidup seperti, seperti pola makan seimbang, istirahat cukup, manajemen stres yang baik, dan olahraga.

Jika gaya hidup sehat sudah diterapkan, maka selanjutnya Anda cukup memberikan proteksi tambahan berbentuk asuransi kesehatan.

Langkah tersebut perlu Anda ambil untuk mencegah kerugian finansial akibat sakit, apalagi jika penyakit yang menyerang bersifat kronis.

Pasalnya tanpa proteksi, tak jarang beberapa aset berharga, seperti tabungan atau harta benda harus terjual guna membayar biaya pengobatan.

Sebagai proteksi, kini ada banyak jenis asuransi kesehatan, salah satunya Sun Medical Platinum yang memberikan biaya pertanggungannya tak main-main, yaitu sampai dengan Rp 7,5 miliar.

Jumlah pertanggungan tersebut sudah termasuk perawatan berbiaya besar seperti, perawatan di Intensive Care Unit (ICU), operasi, cuci darah, dan perawatan kanker.

Sementara itu, dari segi usia pertanggungan, Sun Medical Platinum dapat memberikan perlindungan kesehatan secara lengkap hingga usia 88 tahun.

Dengan manfaat seperti itu, maka Anda tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menebus biaya pengobatan. Aset-aset berharga lainnya pun ikutan aman.

Selain itu, Sun Medical Platinum menjadi polis kesehatan pertama di Indonesia yang menyediakan perawatan untuk efek samping kemoterapi dan terapi pendukung pemulihan, seperti terapi wicara serta terapi okupasi.

Bahkan, sekalipun sakit dan mengharuskan berobat ke luar negeri, asuransi tersebut sudah didukung jaringan rumah sakit rekanan di seluruh dunia dan layanan evakuasi medis selama 24 jam penuh.

Bagaimana, tertarik mengetahui lebih lanjut soal Sun Medical Platinum? Karena sehat itu aset, silakan lihat info selengkapnya di sini.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya