Kompas.com - 28/01/2020, 07:03 WIB
Ilustrasi rambut beruban shutterstockIlustrasi rambut beruban

KOMPAS.com - Menemukan uban pertamamu? Sebelum mencabutnya, cobalah memeriksa apakah kamu akhir-akhir ini sering stres

Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, stres memicu saraf yang terlibat dalam respons "hadapi atau hindari" yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan permanen pada pigmen di folikel rambut.

"Setiap orang memiliki anekdot tentang bagaimana stres memengaruhi tubuh mereka, terutama pada kulit dan rambut sebagai satu-satunya jaringan yang bisa kita lihat dari luar," kata penulis senior studi itu, Ya-Chieh Hsu, dalam sebuah pernyataan.

"Kami ingin memahami apakah hubungan ini benar, dan jika demikian, bagaimana stres menyebabkan perubahan pada beragam jaringan," ujarnya.

Untuk membuktikannya, Hsu meneliti pigmentasi rambut karena sistem ini mudah diakses dan mudah ditelusuri. "Selain itu, kami benar-benar ingin tahu apakah stres memang mengarah pada rambut beruban,” imbuhnya.

Melalui serangkaian percobaan pada tikus, para peneliti menetapkan bahwa stres menyebabkan sistem saraf simpatik untuk menghasilkan hormon yang disebut noradrenalin, yang diambil oleh sel-sel induk regenerasi pigmen di dekatnya dan menyebabkan mereka bekerja lebih ekstra.

Apa artinya? Senyawa pemberi warna habis sebelum waktunya dan secara permanen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ketika kami mulai mempelajari ini, saya sudah membayangkan bahwa stres itu buruk bagi tubuh, tetapi dampak buruk dari stres yang kami temukan berada di luar apa yang saya bayangkan," kata Hsu.

"Setelah beberapa hari, semua sel induk regenerasi pigmen hilang. Setelah hilang, kamu tidak bisa membuat pigmen lagi. Kerusakannya permanen,” imbuhnya.

Para peneliti berharap bahwa temuan ini juga dapat membantu mereka memahami implikasi stres pada bagian lain dari tubuh.

"Dengan memahami secara tepat bagaimana stres memengaruhi sel-sel induk yang meregenerasi pigmen, kami telah meletakkan dasar untuk memahami bagaimana stres memengaruhi jaringan dan organ lain dalam tubuh," tambah Hsu.

"Memahami bagaimana jaringan kita berubah di bawah tekanan adalah langkah penting pertama menuju pengobatan akhirnya yang dapat menghentikan atau mengembalikan dampak buruk dari stres,” lanjut Hsu.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.