Vape Berisiko Sebabkan Masalah Pernapasan dan Kesulitan Menelan

Kompas.com - 10/02/2020, 07:45 WIB
Ilustrasi vape MakcouDIlustrasi vape

KOMPAS.com - Pada awal kemunculannya, vape dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai opsi "sehat" rokok konvensional. Namun faktanya, vape tidak bebas dari bahaya kesehatan.

Temuan terbaru, para peneliti mengungkapkan bahwa penggunaan rokok elektronik atau vape bisa menyebabkan masalah pernapasan dan menelan pada kelompok remaja.

Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics, seorang perempuan remaja yang tidak memiliki asma atau penyakit pernapasan lain sebelumnya merasakan serak di tenggorokannya dan perasaan bahwa dia perlu membersihkan tenggorokannya sesering mungkin.

Baca juga: Tak Cuma Bisa Rusak Paru-paru, Vape Pun Bisa Picu Kanker

Dalam beberapa minggu, kondisi itu memburuk dengan hilangnya suara di pagi hari dan ia merasa seolah ada makanan bersarang di tenggorokannya.

Perempuan remaja itu kemudian mulai kesulitan menelan dan mulai menghindari makanan. Setelah diperiksa, dokter memastikan adanya pembengkakan moderat dan sebagian jalan napas tersumbat dengan lendir berwarna kekuning-kuningan tebal.

Remaja itu tidak memiliki riwayat gangguan autoimun, tidak melakukan perjalanan internasional, dan tidak terkena paparan hewan.

Dia juga tidak demam dan telah menerima semua imunisasi yang dijadwalkan. Tetapi ketika berbicara dengan dokter di Rumah Sakit Nasional Anak di AS, remaja itu mengaku menggunakan rokok elektronik rasa permen dan buah tiga sampai lima kali dengan teman-temannya selama dua bulan terakhir sebelum gejala yang dirasakannya muncul.

Baca juga: Mengenal Evali, Penyakit Paru akibat Vape

Menurut penulis studi, Michael Jason Bozzella, kekhawatiran pertama mereka adalah epiglottitis atau peradangan flap yang ditemukan di pangkal lidah yang mencegah makanan memasuki trakea.

“Pemakaian rokok elektrok oleh remaja ini adalah alasan yang paling masuk akal untuk diagnosis epiglottitis subakut ini, suatu kondisi yang dapat mengancam jiwa,” sambung Kathleen Ferrer dari rumah sakit anak sekaligus penulis senior laporan kasus tersebut.

Ferrer menambahkan, kasus yang tidak biasa ini menambah daftar efek toksik yang semakin meningkat yang disebabkan oleh aktivitas vape.

Ia dan penyedia layanan kesehatan lainnya ke depannya akan mempertimbangkan rokok elektronik ketika mengevaluasi keluhan pro-pernapasan.

Baca juga: Mengerikan, Hampir 100 Kasus Penyakit Paru-paru Misterius Berkaitan dengan Vape

Menurut para peneliti, setiap pemeriksaan tenggorokan dan biopsi tidak menunjukkan bukti infeksi jamur, bakteri atau virus, basil tahan asam atau keganasan lainnya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, per 14 Januari 2020, sebanyak 2.668 orang di Amerika telah dirawat di rumah sakit karena rokok elektronik atau vape terkait cedera paru-paru.

Sementara laporan kasus anak nasional menemukan, bahwa meningkatnya penggunaan produk vape oleh remaja menyoroti potensi risiko kesehatan yang tidak diketahui di masa mendatang.

Baca juga: Salah, Vape Bukan Jembatan untuk Berhenti Merokok...



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X