Jalan Panjang Mengubah Perilaku Kesehatan untuk Cegah Stunting

Kompas.com - 29/07/2020, 18:37 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Stunting atau kekurangan gizi dalam waktu lama yang membuat anak pendek dan otak tidak berkembang, merupakan masalah gizi terbesar pada balita di Indonesia. Dibutuhkan perubahan perilaku masyarakat untuk mengatasi persoalan ini.

Buku yang diterbitkan oleh World Bank, Aiming High: Indonesia’s Ambitions to Reduce Stunting memaparkan, bila kita tidak melakukan apa-apa, hingga tahun 2022 kita masih akan berkutat dengan angka stunting di kisaran 28 persen.

Dengan strategi yang baik, angka stunting bisa ditekan hingga kurang dari 22 persen pada 2022. Salah satu upaya krusial yang dibutuhkan yakni komunikasi perubahan perilaku

Senior Technical and Liasion Adviser Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Widodo Suhartoyo mengungkapkan, 70 persen penyebab stunting disebabkan oleh hal-hal di luar kesehatan dan gizi. Termasuk di antaranya sanitasi, lingkungan, dan perilaku.

Secara spesifik, 30 persen permasalahan stunting disebabkan oleh perilaku yang salah.

Baca juga: Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui

“Karenanya, perubahan perilaku menjadi hal yang sangat penting dalam upaya pencegahan stunting,” ujarnya dalam media diskusi Peran Komunikasi Perubahan Perilaku demi Pencegahan Stunting yang digelar Tanoto Foundation secara virtual (29/7/2020).

Ia memaparkan, perilaku masyarakat yang bisa memicu terjadinya stunting misalnya perilaku yang kurang baik dalam pola hidup, pola makan, dan pola pengasuhan anak.

“Orang tua yang pendek tidak otomatis akan memiliki anak pendek. Anak bisa menjadi pendek karena orang tua menerapkan pola asuh dan pola makan seperti yang diterimanya dulu. Lingkaran ini harus diputus,” tegasnya.

Program intervensi

Widodo mengatakan, saat ini Tanoto Foundation memiliki program intervensi stunting di berbagai daerah di Indonesia bekerja sama dengan beberapa yayasan dan pemerintah.

“Kami melakukan nutrition mapping sampai tingkat kecamatan sebagai dasar melakukan kampanye perubahan perilaku. Setiap daerah akan memiliki rekomendasi yang berbeda,” katanya.

Ia mencontohkan, misalnya di daerah Hulu Sungai Utara, daerah yang kaya ikan tetapi angka stuntingnya tinggi. Ternyata setelah diteliti ikannya hanya dibakar atau digoreng, atau dijual. Maka salah satu rekomendasinya adalah dibuat resep masakan ikan agar anak-anak tidak bosan makan ikan.

Baca juga: Cegah Stunting, Tanoto Foundation Kembangkan Program Pengasuhan Anak Usia Dini

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X