Mengapa Ada Keinginan "Stalking" Mantan Setelah Putus

Kompas.com - 12/08/2020, 11:10 WIB
Ilustrasi Instagram (DOK. Shutterstock) Ilustrasi Instagram

KOMPAS.com – Ketika hubungan kandas tentu rasa sedih mendominasi dan setiap orang berusaha untuk move on. Namun sebagian orang, terutama pihak yang “diputusin”, tak bisa menahan keinginan untuk ingin tahu tentang mantan kekasihnya. Kegiatan ini disebut juga dengan stalking ( menguntit).

Di era digital ini, kegiatan stalking biasanya dilakukan lewat akun media sosial si mantan. Rasanya sulit menahan godaan untuk mengetahui apakah si mantan sudah baik-baik saja hidupnya atau mungkin punya pacar baru.

Padahal, kegiatan menguntit mantan ini hanya memperpanjang rasa sakit hati dan stres setelah putus cinta.

Menurut pakar psikologi Theresa E Didonato, stalking bisa diartikan sebagai perasaan ingin mengejar terus menerus yang tidak diinginkan, baik secara virtual atau secara langsung, di mana pelakunya selalu memikirkan si korban.

Baca juga: 5 Efek Buruk Sering Stalking Mantan Pacar di Media Sosial

Pada umumnya korban mengenal orang yang jadi penguntit. Kegiatan menguntit ini bisa menimbulkan rasa takut dan menguras emosi korban. Bagaimana tidak, si penguntit terkadang menuliskan komentar atau status marah dan menjelek-jelekkan.

Tak jarang, ada yang mengancam akan menyebarkan foto atau video yang bisa mempermalukan korban.

Perasaan terhubung

Mengapa seseorang jadi penguntit, menurut Didonato, hal ini dipicu oleh kebutuhan akan keterikatan, perasaan untuk terhubung dan memiliki.

“Kebutuhan akan relasi ini biasanya dipenuhi oleh pasangan kita, sehingga ketika hubungan putus perasaan akan keterikatan itu hilang,” katanya.

Pihak yang diputus cinta dan menjadi penguntit juga kerap merasa dirinya sebagai korban atau dipermainkan. Rasa takut akan diabaikan itu membuat mereka tidak bisa berpikir jernih.

Baca juga: Kembali ke Pelukan Mantan Kekasih, karena Cinta atau Takut Sendirian?

Orang yang jadi penguntit juga biasanya punya sifat obsesif dalam hidupnya, termasuk hubungan asmaranya. Mereka juga tergolong orang yang narsis dan tidak bisa menghargai perasaan atau batasan dari orang lain.

Memang hal itu tidak bisa dipakai untuk membenarkan tindakan stalking. Namun, orang yang memiliki perasaan serupa, menurut Didonato, bisa mengalihkan diri dari perangkap emosional ini secara sehat.

Penting untuk mengingat bahwa penguntit bukanlah monster yang bersembunyi dalam gelap. Faktanya, tidak ada kriteria khusus untuk mengenali apakah seseorang berpotensi menjadi penguntit atau tidak.

Salah satu kesalahan umum tentang penguntit adalah mereka bukan orang yang kesepian, atau tak bisa bergaul. Para ahli menemukan bahwa penguntit rata-rata justru orang yang ramah dan menarik, sehingga orang tak mengira ia punya obsesi tidak sehat dengan mantannya.

Baca juga: Tahukah Kamu, Ini Cara Terburuk Putus dengan Kekasih



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X