Peran Dokter Gigi dalam Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat

Kompas.com - 13/01/2021, 11:34 WIB
Petugas gabungan membawa bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (10/1/2021). Temuan bagian pesawat selanjutnya akan diperiksa oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedangkan potongan tubuh korban diserahkan kepada DVI Polri untuk identifikasi lebih lanjut. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas gabungan membawa bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (10/1/2021). Temuan bagian pesawat selanjutnya akan diperiksa oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedangkan potongan tubuh korban diserahkan kepada DVI Polri untuk identifikasi lebih lanjut.

BERITA duka baru saja datang dari dunia transportasi udara di tanah air. Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar Kepulauan Seribu, DKI Jakarta diketahui membawa total 62 orang termasuk penumpang dan awak kabin.

Tipis harapan untuk menemukan ada korban yang selamat dan sampai saat ini dikabarkan sebagian besar jasad korban kecelakaan pesawat telah ditemukan.

Selanjutnya jasad di bawa ke RS Bhayangkara TK. I - R. Said Sukanto, Jakarta Timur untuk dilakukan proses identifikasi oleh pihak yang berwenang. Selain dokter ahli forensik, dokter gigi juga turut membantu proses identifikasi korban.

Apa saja peran dokter gigi dalam mengidentifikasi korban kecelakaan pesawat terbang?

Dokter gigi spesialis odontologi forensik

Menurut Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), salah satu keahlian dokter gigi yang ada di Indonesia adalah odontologi forensik dengan penulisan gelar Sp.OF (Spesialis Odontologi Forensik).

Baca juga: Apa Itu Antemortem, Postmortem, dan Kerja Forensik dalam Proses Identifikasi Jenazah?

 

Spesialis odontologi forensik adalah cabang keahlian yang baru saja disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia pada tahun 2020.

Latar belakang disahkannya pendidikan profesi dokter gigi spesialis odontologi forensik adalah berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian bencana di Indonesia mulai tahun 1815-2019 cenderung meningkat. B

encana ini termasuk banjir, gempa, longsor, gunung Meletus, tsunami, serta angin topan. Ada pula bencana yang diakibatkan oleh manusia atau man-made disaster misalnya ledakan bom dan kecelakaan transportasi seperti pesawat jatuh, kapal tenggelam, atau terorisme.

Selain bencana, pada beberapa kasus kriminal, gigi-geligi sebagai bagian tubuh yang paling sulit dihancurkan dapat menjadi barang bukti penentuan identitas korban yang mengalami kerusakan pada wajah, sidik jari, bahkan mutilasi seluruh tubuh.

Baca juga: Hari Kelima Pencarian Sriwijaya Air SJ 182, Tim SAR Siapkan 30 Ambulans untuk Jenazah Korban

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X