Kompas.com - 22/02/2021, 17:22 WIB
Siswa (kanan) mengambil bagian dalam penelitian di mana siswa merancang alat perawatan asma yang ramah anak. COURTESY HEALTHY LONDON VIA CNNSiswa (kanan) mengambil bagian dalam penelitian di mana siswa merancang alat perawatan asma yang ramah anak.

KOMPAS.com - Saat duduk di bangku sekolah dulu, kita mungkin tidak secara langsung mendapat pelajaran mengenai cara bersosialisasi atau mengungkapkan emosi.

Namun di era sekarang, banyak sekolah yang memberi pelajaran terkait emosi kepada murid-muridnya.

Peneliti dari University of Cambridge, Inggris meneliti apa yang terjadi ketika kita memadukan pembelajaran sosial dan emosional dengan pekerjaan akademis yang konvensional.

Dua pengajar di universitas tersebut, Bill Nicholl -dosen ilmu desain dan teknologi, serta Helen Demetriou -dosen psikologi dan pendidikan, bekerja sama membuat inisiatif baru.

Inisiatif tersebut diberi tajuk "Designing Our Tomorrow."

Baca juga: Latih Keterampilan Empati Anak dengan Bermain Boneka

Keduanya menciptakan dan mengawasi sebuah studi, di mana para murid di salah satu sekolah di London, menjalani satu tahun kurikulum yang menggabungkan empati ke dalam tantangan desain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para murid diminta merancang sebuah paket pengobatan asma untuk anak-anak.

Rencana pelajaran itu mencakup perincian tentang bagaimana melakukan pengobatan asma dan alat yang dibutuhkan.

Tak lupa, didalami pula peluang untuk memahami dimensi emosional dari orang yang hidup dengan asma.

Paket yang terpilih sebagai pemenang mencakup desain monyet dan material beraroma pisang

Kini kreasi itu sedang diproses untuk digunakan oleh badan kesehatan Inggris, National Health Services.

Setelah para murid menyelesaikan tantangan, peneliti membandingkan hasil mereka dengan siswa yang berusia sama di sekolah berbeda yang tidak berpartisipasi.

Melalui proses penilaian kuantitatif dan kualitatif menyeluruh, peneliti menemukan empati dapat meningkatkan kreativitas.

Baca juga: 6 Kebiasaan untuk Mengasah Rasa Empati, Mau Coba?

Peneliti juga mengungkap, mengajarkan empati dalam konteks tertentu akan meningkatkan empati di lingkungan lain.

Selain itu, melatih empati bisa memperdalam keterlibatan murid secara keseluruhan dengan pembelajaran.

Empati juga membantu mengurangi kesenjangan gender dalam gaya belajar.

Dalam wawancara dengan CNN, Nicholl dan Demetriou menjelaskan hubungan antara empati dan kreativitas, serta pentingnya memiliki empati untuk kehidupan jangka panjang.

1. Kaitan antara empati dan kreativitas

"Ada hubungan langsung antara keduanya. Empati adalah bentuk kreativitas tersendiri yang melibatkan imajinasi," sebut Demetriou.

Secara garis besar, Demetriou menjelaskan ada dua jenis empati. Pertama adalah empati kognitif, atau berpikir tentang sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Dan yang kedua, empati emosional atau afektif, merupakan perasaan bersama dengan orang lain.

"Dengan kreativitas, kita juga memiliki sisi kognitif dan emosional ini," kata dia.

"Jika kita mendesain produk dengan memikirkan kebutuhan orang lain, penting untuk memproyeksikan diri ke dalam dunia orang lain. Keduanya berjalan beriringan."

Nicholl juga menyampaikan pendapatnya tentang hubungan antara kreativitas dan rasa empati.

Baca juga: 4 Cara Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

"Kami tidak hanya memberi tahu anak tentang masalahnya, namun juga membantu anak mengetahui bagaimana rasanya memiliki asma, dan melihat sesuatu dari sudut pandang mereka," ujar Nicholl.

Baik Nicholl dan Demetriou menunjukkan kepada para murid video tentang seorang anak yang terserang asma.

Mereka mengajak murid-murid tersebut bermain peran dan memikirkan pemangku kepentingan yang terlibat dengan asma yang diderita anak.

"Bagaimana perasaan ibu? Apa yang nenek lakukan saat cucunya terserang asma?"

"Mereka memiliki pemahaman akan masalah, dan ini memberi mereka wawasan, yang membantu mereka mendapat banyak ide kreatif," cetus dia.

Proses tantangan itu berbeda dengan menciptakan sesuatu di kelas, di mana murid mengikuti perintah guru berdasarkan hasil yang sudah ditentukan.

Dengan tantangan tersebut, para murid membutuhkan keterampilan sosial dan emosional untuk memahami masalah, dan keterampilan sosial, dan emosional membuat murid bisa terlibat ke dalam masalah.

2. Alasan anak harus memelajari empati

"Saat kita mengajarkan empati, maka hal ini memberikan waktu kepada murid untuk memikirkan tentang perspektif orang lain," kata Demetriou.

Dia berpandangan, pengetahuan merupakan bentuk pemberdayaan, apalagi jika menyangkut situasi orang lain.

"Para murid juga merasa dihargai dan dihormati dengan memberi mereka tugas yang memiliki akibat yang mengancam jiwa."

Baca juga: Seperti Kecerdasan, Rasa Empati Anak Perlu Dilatih

"Proses ini mencakup seluruh keberadaan mereka, dimensi yang mungkin tidak mereka sadari."

"Seorang murid berkata 'saya tidak tahu ini ada dalam diri saya. Saya ingin seperti ini setiap hari'," jelas Demetriou.

3. Pemisahan pembelajaran sosial dan emosional dari mata pelajaran akademis

Nicholl mengatakan, pembelajaran sosial dan emosional harus diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran.

"Pembelajaran ini membantu murid melihat bagaimana tantangan yang ada melampaui masalah desain," kata dia.

"Mereka dapat berhubungan dengan orang yang mengalami asma dan sebagai hasilnya, mereka menemukan solusi yang lebih baik."

Hal ini bertentangan dengan pendekatan belajar mengajar yang sifatnya mendidik, di mana anak menjadi penerima informasi pasif.

"Agar empati bisa tumbuh, anak memerlukan waktu untuk merenungkan tugas mereka, dan terlibat dalam pembuatan makna," tambah Nicholl.

Dia mengutip apa yang dikatakan filsuf John Dewey, yang berbunyi "kita tidak belajar dari pengalaman. Kita belajar dari refleksi atas pengalaman."

Sementara itu Demetriou menganggap, anak harus belajar empati dengan cara menyeluruh karena manusia merupakan makhluk multidimensi.

"Bahkan dalam matematika dan sains, sedikit imajinasi dan empati dapat membuat mata pelajaran tersebut lebih mudah diakses dan menarik," ucap dia.

4. Upaya yang dapat dilakukan orangtua

Saat ini aspek emosional dan sosial dari pendidikan sudah hilang karena pandemi membuat anak harus mengikuti proses belajar mengajar dari jarak jauh.

"Kita perlu mengingatkan anak untuk memikirkan berbagai hal dari sudut pandang orang lain."

"Bagaimana perasaan mereka? Apa yang mereka pikirkan yang membuat mereka bersikap seperti itu?" tutur dia.

Baca juga: Punya Saudara Bisa Tumbuhkan Rasa Empati Anak

Empati juga bisa didapat dari membaca buku.

Beberapa penelitian menemukan, buku dapat membangkitkan empati, dan percakapan tentang tokoh dan cerita membantu anak melihat bagaimana rasanya hidup sebagai orang lain.

"Orangtua juga dapat menonton film atau video dan mengajukan pertanyaan. Buat anak berpikir tentang alasan orang lain berperilaku dan bertindak seperti yang ada di film atau video itu," sebut Nicholl.

5. Empati kognitif dan afektif sama pentingnya.

Seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya, empati terbagi menjadi dua, yaitu empati kognitif dan afektif.

Empati kognitif mengacu pada bagaimana kita memikirkan sesuatu dari sudut pandang orang lain. Sedangkan empati afektif adalah perasaan bersama orang lain.

Dari kedua empati tersebut, Demetriou mengatakan jika keduanya sama-sama penting.

"Keduanya penting. Setidaknya buat orang sadar bahwa kita berpikir di keduanya dengan derajat yang berbeda," ungkap dia.

6. Mencegah penurunan empati pada seseorang

Nicholl mengatakan, untuk memelihara rasa empati, kita perlu mengalaminya dalam konteks berbeda.

Baca juga: Empati Berkurang Gara-gara Kurang Tidur

"Semakin sering kita mengalaminya, semakin baik kita dalam hal tersebut," ujar dia.

Sedangkan menurut Demetriou, hasil studi mengungkap jika kita akan kehilangan rasa empati apabila kepekaan itu tidak digunakan.

"Kita perlu terus mempromosikannya dan mengingatkan orang, empati adalah alat penting dan berguna yang dapat membantu kita berpikir di luar kotak dan tidak membuat asumsi yang salah tentang orang lain."

7. Perbedaan empati antara anak laki-laki dan perempuan

Dalam literatur psikologi perkembangan, biasanya anak perempuan cenderung lebih memiliki rasa empati secara emosional sejak dini, kata Demetriou.

Fakta itu juga terlihat dalam hasil penelitian Nicholl dan Demetriou.

"Saat kita memberi anak laki-laki izin untuk menunjukkan emosi dan menunjukkan kepada anak manfaat emosi untuk tugas yang ada, anak menyadari, memiliki dan menggunakan emosi bisa diterima secara sosial dan berguna," sebut Demetriou.

"Bagi anak perempuan, jika ia diberi waktu dan instruksi untuk membahas sesuatu yang melibatkan pengambilan perspektif kognitif, itu membuatnya lebih percaya diri untuk mengerjakan tugas."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.