Kompas.com - 03/03/2021, 07:20 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Pada titik tersebut, anak-anak sudah memahami pentingnya hubungan antara kedua orangtua.

Anak mengembangkan keterikatan mendalam dengan orangtua dan keluarga sebagai satu kesatuan. Namun di saat yang sama, anak menjadi kurang mandiri dan egosentris.

Baca juga: 4 Cara Menjelaskan Perceraian pada Anak

"Perceraian itu bukanlah bagian tersulit. Bagian tersulit adalah konfliknya," ungkap Carroll.

Konflik orangtua akan sangat merugikan jika terjadi di depan anak-anak. Lebih buruk lagi, ketika kedua orangtua berkomunikasi lewat anak sebagai perantara.

Dalam keadaan yang paling ekstrem, kata Carroll, perceraian bisa memberikan manfaat.

"Jika terjadi banyak konflik, terkadang perceraian terasa melegakan."

Sebelum masa pubertas, trauma akibat perceraian juga bisa diperburuk oleh orangtua yang berhenti melakukan tugasnya sebagai orangtua.

Perceraian menyebabkan anak jarang bertemu salah satu orangtua, entah itu ayah atau ibunya, sehingga anak merasa kehilangan sebagian dari dirinya.

"Hal terburuk bagi seorang anak adalah jika setelah perceraian, orangtua tidak ada," kata Carroll.

"Jika ingin melihat anak depresi, lihat apa yang terjadi jika orangtuanya tidak muncul."

Halaman:


Sumber Fatherly
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X