Kompas.com - 04/03/2021, 13:41 WIB

5. Membuat kebiasaan menolong menjadi menyenangkan

Ada banyak cara agar kegiatan menolong orang lain menjadi menyenangkan dan lebih kreatif.

Para orangtua dapat mengubah tugas menolong sesama menjadi sebuah permainan.

Juga, orangtua dapat bertukar pikiran dengan anak untuk menetapkan tujuan yang jelas, atau membuat "daftar keinginan" agar aktivitas menolong menjadi seperti sebuah petualangan.

Kita bisa merayakan usaha anak dalam menolong orang lain. Bisa jadi, menolong sesama bukan sesuatu yang ingin dilakukan anak, namun anak akhirnya menyadari bahwa menolong adalah hal yang penting.

Baca juga: Soal Makan, Orangtua Jangan Ucapkan 5 Kalimat Ini kepada Anak

6. Tekankan pentingnya menjaga hubungan dengan orang lain

Orangtua perlu berbicara kepada anak bahwa dengan menjadi penolong, dia bisa memperbaiki kehidupan orang lain.

Misalnya, menemukan mainan teman yang hilang atau mengisi ulang sabun di kamar mandi untuk keperluan seluruh anggota keluarga di rumah.

Berikan contoh kepada anak, orang-orang yang tugasnya membantu sesama manusia, seperti perawat di rumah sakit atau petugas kebersihan yang setiap hari mengambil sampah rumah tangga.

"Biasanya 'menolong' dikaitkan dengan pekerjaan rumah tangga, namun anak berusia sekitar 8-9 tahun bisa bekerja sama dengan teman atau anggota keluarga dalam proyek kelompok untuk membantu satu keluarga atau komunitas," sebut Yalow.

"Dengan menjadikan tugas menolong sebagai upaya kelompok, anak mengembangkan keterampilan sosialisasi dan komunikasi, menjadi kreatif, dan membangun persahabatan lebih kuat dengan tujuan yang sama."

Baca juga: Selain Aisha Weddings, Ini 6 Kasus Pernikahan Anak yang Pernah Viral

7. Bantu mereka merasa diberdayakan.

Untuk mendorong kebiasaan menolong pada anak, membagikan kekuatan kita sebagai orangtuanya adalah hal yang penting. Anak juga perlu merasa dihargai dan diberdayakan.

"Anak ingin diperlakukan dengan adil, dan menginginkan kesempatan untuk bersuara. Biarkan dia memimpin dengan bimbingan Anda."

Saat memberikan anak tugas, jangan membingkai tugas tersebut sebagai hukuman atau membuat anak menyadari bahwa kita tidak ingin mengerjakan tugas sendirian.

Cobalah menjelaskan kepada anak, tugas yang kita berikan adalah bentuk kepercayaan kita terhadap kemampuan dia, serta menandakan betapa kita menghargai kontribusi anak.

Anak juga sebaiknya mempunyai hak dalam memilih tugas yang mau diambilnya.

8. Sabar

Anak membutuhkan waktu untuk menguasai keterampilan terkait pekerjaan rumah tangga dan kegiatan sukarela.

Menjadi orangtua yang sabar dan fleksibel bisa membantu ketika anak merasa sedang tidak ingin menolong, tambah Yalow.

Dengan demikian, anak akan mengembangkan pola pikir "menolong karena ia mau", bukan karena keharusan atau paksaan.

Anak yang tidak mau menolong biasanya membutuhkan lebih banyak waktu, jadi kita harus berfokus pada tujuan akhir.

"Ingatlah menolong adalah keterampilan yang harus dikembangkan," jelas Kimbley.

Ajarkan pula kepada anak untuk mengembangkan batasan yang sehat dalam menolong seseorang, karena ada masalah tertentu yang cenderung lebih sulit ditangani.

Baca juga: Orangtua Jangan Sering Bohong, Ini Dampak pada Anak Saat Dewasa

9. Anak melakukan kesalahan? Biarkan

Melakukan kesalahan akan memberi anak kesempatan untuk menghadapi kesulitan, belajar dan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih baik.

"Jangan langsung berasumsi anak tidak bisa melakukan sesuatu. Menggunakan kompor, misalnya, adalah hal yang perlu dipelajari anak agar ia bisa menggunakannya dengan aman, bukan hanya dijauhkan."

Yalow juga menganjurkan orangtua supaya menahan diri untuk membantu dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan anak.

Sebagai gantinya, orangtua bisa mendukung anak saat dia belajar memecahkan masalah dan bertanggung jawab atas hasil tindakannya.

"Setiap insiden kecil juga merupakan kesempatan bagi anak untuk belajar memperbaiki, membangun keterampilan, dan mendukung kemandiriannya yang sedang tumbuh," tuturnya lagi.

Baca juga: Sisi Lain Pandemi, Anak Jadi Belajar Lebih Mandiri

10. Mengajak anak merenungkan perannya sebagai penolong

"Tips praktis dalam membantu anak terhubung dengan peran 'penolong' adalah mengajak anak untuk merenungkan pengalamannya menolong," kata Mehta.

Mehta menyarankan beberapa kalimat untuk ditanyakan kepada anak agar dia bisa merenungkan diri, seperti,  "Bagaimana perasaanmu sebelum menolong mereka?", "Bagaimana perasaanmu sesudahnya?" dan sebagainya.

Membuat anak menceritakan pengalamannya saat menolong orang lain dapat membantu dia memahami "the power of helping", atau kekuatan dari menolong.

Juga, anak merasa lebih siap untuk kembali menolong orang lain di masa mendatang. Tanamkan ke dalam diri anak, meskipun dia tidak mendapatkan ucapan terima kasih atau imbalan dalam bentuk apa pun, anak tetap bisa menolong orang lain.

Baca juga: Tablet PC Jadi Kebutuhan Anak, Apa yang Perlu Diperhatikan Orangtua?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.