Ketidakhadiran Orangtua dan Keluarga Toksik

Kompas.com - 14/04/2021, 21:12 WIB
Ilustrasi keluarga shutterstockIlustrasi keluarga

TIDAK selamanya keluarga adalah harta yang bisa jadi berharga. Tentunya semua keluarga hadir dengan kekurangan dan kelebihannya tersendiri. Namun, ada kekurangan dari anggota keluarga yang sudah di luar kewajaran dan berimbas pada budaya toksik yang amat merugikan.

Keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) merupakan faktor terpenting dalam tumbuh kembang psikis anak. Ketidakhadiran orang tua bisa menyebabkan rangkaian perilaku patologis pada anak.

Misalnya, mencari kambing hitam atas nasibnya. Dalam konteks ketidakhadiran orang tua, si anak bisa mencari kambing hitam sesuai dengan keinginannya. Menyalahkan salah satu dari kedua orang tuanya, menyalahkan keduanya, menyalahkan kerabat dekat yang bertindak sebagai care giver, hingga menyalahkan dirinya sendiri.

Anak memang selalu menjadi korban dari ketidakhadiran orang tua. Namun perilaku patologis yang menjadi efek dari ketidakhadiran orang tua baiknya bisa diantisipasi sejak dini.

Salah satu perilaku patologis tersebut disebut sebagai conduct disorder (CD) yang merupakan gangguan perilaku dan emosi serius yang membuat anak menunjukkan perilaku kekerasan, cenderung sulit mengikuti aturan di sekolah maupun di rumah, hingga melakukan hal di luar kewajaran (Durand & Barlow, 2007).

Salah satu kasusnya seperti ini: A merupakan anak pertama dari pasangan B dan C yang kemudian bercerai. Orang tuanya bercerai sebab C berselingkuh, menimbulkan dampak psikologi yang belum bisa dicerna oleh anak seusianya. Dia bingung dan marah kenapa orang tuanya tidak tinggal satu rumah lagi.

Akhirnya dia dibawa oleh B (ayahnya). Namun karena ayahnya harus bekerja dan tidak ada yang merawatnya, akhirnya dia dititipkan pada bibi dan paman yang merupakan adik dari B.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat tinggal bersama keluarga yang mengasuhnya, kondisi mental A tidak stabil. A tetap mencari kambing hitam atas persoalannya. Hal tersebut bisa menggiringnya melakukan perilaku patologis sebagai pelampiasan atas kondisi yang menimpanya.

Dalam krisis mana yang benar dan salah, A tetap menyertakan emosi tindakan-tindakannya. Penyimpangan perilaku yang ditunjukkan anak maupun remaja, seperti CD, kenakalan remaja hingga tindakan kriminal memiliki faktor risiko untuk mengalami gangguan yang lebih parah di perkembangan hidup selanjutnya.

Menurut Eppright, Kashani, Robinson, dan Reid (Durand & Barlow, 2007), individu dengan CD di masa kanak-kanak banyak yang kemudian menjadi remaja pelaku kejahatan. Pada CD semua kategori Oppostional Defiant Disorder (ODD) muncul lebih kuat dan lebih persisten. ODD dicirikan dengan pola perilaku menyimpang dan merusak secara konsisten (Burke, Loeber, & Birmaher, 2002).

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.