Kompas.com - 02/12/2021, 09:38 WIB
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Kasus kekerasan seksual khususnya terhadap perempuan semakin marak terjadi. Bahkan beberapa kasus kini sering kali ditemukan di ranah publik seperti perguruan tinggi atau kampus.

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan sepanjang tahun 2015-2020, terdapat 27 persen aduan kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi dari keseluruhan pengaduan yang terjadi di lembaga pendidikan.

Data ini pun diperkuat dengan temuan survei Mendikbud Ristek tahun 2019 bahwa kampus menempati urutan ketiga (15 persen) lokasi terjadinya tindak kekerasan seksual, setelah peringkat jalanan (33 persen) dan transportasi umum (19 persen).

Padahal, sebagai institusi pendidikan yang tertinggi, kampus seharusnya bisa menjadi ruang yang aman dan bebas dari kekerasan seksual bagi siapa pun, terutama mahasiswa.

Baca juga: Hal yang Harus Dilakukan Ketika Mengalami Pelecehan Seksual

Adanya ketimpangan kuasa

Kalis Mardiasih, selaku pemerhati isu gender dan penulis, mengatakan bahwa sebagian besar terjadinya kekerasan seksual itu disebabkan karena adanya ketimpangan kuasa antara pelaku dan korban.

Sehingga, dalam hal ini korban biasanya akan menjadi pihak yang paling lemah dan tidak berdaya karena merasa terancam.

"Seperti di kampus, lebih banyak pelaku kekerasan seksual itu berasal dari kalangan dosen atau dekan karena mereka merasa punya kuasa," terangnya dalam acara virtual Bersama Menciptakan Kampus yang Bebas dari Kekerasan Seksual bersama The Body Shop, Rabu (1/12/2021).

"Jadi, ketika ada dosen atau dekan yang melakukan kekerasan seksual itu akan lebih sulit untuk dihadapi karena mereka memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mahasiswa di kampus," sambung dia.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh direktur Rumah Perempuan, Libby Sinlaloe, Spt, yang menemukan 50 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan di wilayah Kupang.

Menurutnya, beberapa laporan kasus kekerasan seksual terjadi di kampus dan banyak korban takut melaporkannya karena merasa terintimidasi.

"Banyak korban yang akhirnya memutuskan untuk tidak melapor karena takut tidak lulus atau mendapatkan nilai jelek," ujarnya.

"Sayangnya, banyak pula pejabat di lingkungan kampus yang diam soal ini dengan alasan menjaga nama baik kampus dan bahkan korban kerap disalahkan atau dikeluarkan dari kampus," jelas dia.

Baca juga: Kenali, Ragam Pelecehan Seksual Halus yang Terjadi di Tempat Kerja

Menciptakan kampus yang aman

Kampus memiliki tanggung jawab untuk menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk bisa belajar dengan nyaman tanpa rasa takut akan mengalami kekerasan seksual.

Untuk itu, Kalis merekomendasikan supaya setiap kampus di Indonesia dapat menyediakan layanan aduan terhadap kekerasan seksual, di mana timnya pun berisi orang-orang yang memiliki perspektif untuk memberikan keadilan bagi korban.

Namun, selain pihak kampus, kita sebagai individu juga dapat menciptakan kampus yang aman dari kekerasan seksual dengan melibatkan diri menjadi pendamping korban.

"Untuk menjadi pendamping korban kekerasan seksual, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah memercayai ceritanya karena kebanyakan korban yang tidak pernah lapor itu merasa tidak ada orang yang percaya," ungkapnya.

Setelah memercayai cerita korban, menurut Kalis, selanjutnya kita harus memastikan bagaimana kondisi fisik dan psikis korban. Kendati demikian, kita juga tidak boleh sok tahu atau menjadi konselor korban.

"Biarkan korban ditangani oleh pihak-pihak yang tepat. Kalau ada gangguan fisik kita bisa bawa ke dokter atau layanan kesehatan, sementara jika psikisnya terganggu kita bisa antarkan ke psikiater atau psikolog," sarannya.

"Di samping itu, jauhkan korban dengan pelaku supaya tidak menimbulkan trauma yang mendalam dan langkah berikutnya kita memastikan kampus bebas dari predator seksual," imbuh dia.

Baca juga: 5 Jenis Pelecehan Seksual yang Paling Sering Terjadi di Ruang Publik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.