Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 26/09/2022, 14:03 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Glori K. Wadrianto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Orangtua mana yang tidak ingin anaknya sukses di masa depan?

Karena alasan ini, sebagian orangtua menerapkan tiger parenting kepada si buah hati.

Tiger parenting yang diyakini mencetak anak yang sukses dipopulerkan oleh penulis yang juga profesor hukum, Amy Chua, melalui bukunya berjudul "Battle Hymn of the Tiger Mom".

Setelah buku itu rilis, tidak sedikit orangtua yang ingin anaknya sukses memilih menerapkan pola pengasuhan ini.

Baca juga: Kunci Menerapkan Gentle Parenting pada Anak tanpa Kehabisan Kesabaran

Meski, ada pihak menyebut tiger parenting tidak cocok untuk semua anak dan budaya.

Terlepas dari kontroversi yang ada, benar tidak sih tiger parenting menghasilkan anak yang berprestasi?

Berikut ulasannya.

Sejarah tiger parenting

Walau dipopulerkan oleh Chua, faktanya tiger parenting sudah dicetuskan oleh pemikir yang juga mahaguru asal Tiongkok, Konfusius alias Kong Zi, sejak abad kelima.

Filosofi yang dikemukakan sang filsuf mengedepankan struktur keluarga yang hierarkis, loyalitas, etos kerja, kejujuran, dan komitmen terhadap pendidikan dan prestasi akademik.

Semenjak Konfusicus mencetuskannya sekitar 2.000 tahun yang lalu, pola pengasuhan ini mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pendidikan di Asia Timur.

Orang-orang yang lahir dan besar di kawasan tersebut memang memandang pendidikan sebagai gerbang keberhasilan untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi.

Pengertian tiger parenting

Tiger parenting yang dipopulerkan oleh Chua sebenarnya mengacu pada metode pengasuhan ketat yang otoritatif untuk membesarkan anak yang berprestasi.

Baca juga: Gentle Parenting: Gaya Pengasuhan tanpa Marah-marah yang Kaya Manfaat

Pola pengasuhan tersebut membuat anak lebih fokus pada pendidikan ketimbang liburan, jalan-jalan, bermain, atau nongkrong.

Secara khusus, orangtua yang mengaplikasikan tiger parenting punya kecenderungan mengatur kehidupan anaknya secara mendetail.

Bahkan, orangtua yang demikian memberikan dorongan kepada anak untuk memenuhi harapannya yang tinggi.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com