Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Kenali Gangguan Sensorik pada Anak

Kompas.com - 15/02/2023, 12:47 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Alifia Putri Yudanti dan Ristiana D. Putri

KOMPAS.com - Seorang anak rentan mengalami berbagai macam penyakit. Di usia dini inilah orangtua perlu lebih peduli dengan kondisi kesehatan mereka. Pasalnya, semakin awal mengetahui, semakin tinggi juga kesempatan untuk sembuh atau meminimalisasinya.

Salah satu kondisi medis yang bisa anak alami adalah gangguan sensorik. Menurut penelitan Kong dan Moreno (2018) ada satu dari enam anak yang mengalami kesulitan dalam pemrosesan sensorik.

Pada populasi tertentu, prevalensinya diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen. Biasanya, kondisi ini diderita oleh anak-anak dengan gangguan spektrum autisme, memiliki riwayat prematuritas, sindrom alkohol janin (FAS), atau sindrom down.

Kondisi medis ini juga dijelaskan dalam siniar Obrolan Meja Makan bertajuk “Kenali Gangguan Sensorik pada Anak” dengan tautan akses dik.si/OMMSensorik.

Apa itu gangguan pemrosesan sensorik?

Mengutip Healthline, gangguan pemrosesan sensorik adalah kondisi neurologis pada anak yang dapat memengaruhi cara otak memproses informasi dari indra. Anak dengan gangguan ini akan lebih sensitif atau tidak bereaksi sama sekali saat berinteraksi langsung dengan panca indra.

Baca juga: Uninvolved Parenting, Ketika Orangtua Lalai Mengasuh Anak

Misalnya, anak jadi rentan saat terkena paparan cahaya atau suara. Bahkan, mereka juga bisa sangat sensitif saat sedang mencoba makanan dan minuman baru, menyentuh suatu benda, hingga bau-bauan. Ada pula kondisi sebaliknya, yaitu anak tidak bisa merasakan apa pun dengan panca indra mereka, seperti tak bisa merasakan makanan pedas atau manis.

Itu sebabnya, anak dengan kondisi ini mungkin tidak menyukai hal-hal yang bisa membuat reaksi pada indra mereka secara berlebihan. Bisa juga sebaliknya, yaitu anak-anak berusaha mencari rangsangan tambahan untuk melatih keberfungsian indra mereka.

Gejala gangguan pemrosesan sensorik

Sebelum memastikan anak terkena gangguan ini, biasanya ada gejala yang menyertainya. Melansir Family Doctor, gangguan ini bisa memengaruhi beberapa indra atau bahkan semuanya. Ada pun gejala yang menandakan anak terlalu sensitif di antaranya

  • Anak tidak nyaman dengan pakaian mereka karena terlalu gatal,
  • Anak merasa cahaya lampu terlalu menyilaukan meski dalam cahaya lampu yang tak terlalu besar,
  • Suara musik dengan volume standar bisa mengganggu anak karena bagi mereka itu terlalu keras,
  • Anak tidak nyaman disentuh karena mereka merasa itu terlalu keras,
  • Makanan dengan tekstur bisa membuat anak muntah,
  • Memiliki keseimbangan yang buruk yang ditandakan dengan sering terjatuh
  • Takut bermain ayunan,
  • Bereaksi buruk terhadap gerakan atau sentuhan yang spontan,
  • Memiliki masalah perilaku, dan
  • Memiliki keterampilan motorik yang buruk, seperti kesulitan memegang pensil atau gunting hingga telat berbicara.

Pada anak yang sudah memasuki usia remaja, gejala ini dapat menurunkan rasa percaya dirinya. Anak merasa bahwa ia berbeda dengan teman-temannya sehingga dapat memengaruhi kehidupan sosialnya dan berujung pada depresi.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com