Kompas.com - 22/06/2017, 16:20 WIB
Ilustrasi thinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Berita mengenai penculikan anak tak pernah sepi beredar di media sosial. Meski belum tentu benar, namun hal itu membuat banyak orangtua khawatir dengan keamanan buah hatinya.

Untuk memastikan keselamatan anak-anaknya, sebagai orangtua umumnya kita mengajarkan mereka agar tidak sembarangan berbicara dengan orang asing. Di lain pihak, anak-anak sekarang ini lebih berani untuk mengobrol dengan orang yang baru dikenalnya.

Sebagai orangtua, tentu kita senang jika anak-anak mampu bersikap ramah dan sopan pada orang lain, tetapi sikap terbuka mereka juga bisa mengkhawatirkan.

Ketahui kita mengajarkan pada anak cara berhati-hati kepada orang asing.

1. Pilih kata-kata
Menurut Pattie Fitzgerald, pendiri organisasi keselamatan anak Safely Ever After, Inc, sebaiknya jangan gunakan kata "orang asing" pada anak, namun pakailah istilah "orang yang licik".

Kita bisa menjelaskan bahwa "orang licik" adalah orang dewasa, baik yang dikenal atau tidak, namun suka membohongi anak-anak dan melanggar aturan.

"Kata orang dewasa sangat penting karena anak-anak cenderung mudah percaya pada orang dewasa. Sementara itu, istilah 'orang asing' yang kita gunakan ternyata tidak selalu menyeramkan bagi anak. Bisa saja orang itu bersikap ramah dan menarik, punya mainan atau hewan yang lucu," kata Fitzgerald.

Untuk memastikan anak-anak tahu bagaimana menghadapi orang yang licik, buatlah skenario spesifik. Misalnya, ajukan pertanyaan seperti: "Apa yang kamu lakukan jika ada orang dewasa menawari kamu permen? Bagaimana jika ia meminta tolong padamu untuk mencari kucingnya yang hilang?" Dengarkan jawabannya dan lalu jelaskan cara yang tepat untuk bersikap.

Bila anak bertanya mengapa ia tak boleh menerima permen atau ikut mencari kucing yang hilang, jauhi komentar seperti, "Kamu nanti diculik". Sebaiknya jelaskan bahwa tidak semua orang yang kita temui baik. Buatlah aturan bersama bahwa ia tidak boleh pergi dengan siapa pun, tanpa ijin orangtua.

2. Buat rencana
Untuk anak usia Taman Kanak-kanak, aturan keselamatan sebaiknya dipelajari melalui ingatan otot. Misalnya dengan bermain peran. Buatlah permainan yang mudah dimengerti anak dan bersifat fun.

Halaman:


Sumber Parents
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X