Kompas.com - 28/10/2017, 12:02 WIB
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

KOMPAS.com - Seringkali kita mendapatkan perfoma kerja menurun, padahal sudah merasa melakukan yang terbaik. Ternyata, penurunan performa itu karena hal sepele, yakni kurang beristirahat.

Menurut laporan Glassdoor, dua per tiga karyawan di Amerika Serikat mengatakan, mereka akan merasa lebih baik bila mendapatkan cukup tidur, khususnya mereka yang berusia 19 dan 44 (73 persen).

Dalam laporan itu, disimpulkan juga bahwa tiga dari empat karyawan tidur kurang dari yang direkomendasikan, yakni 7-9 jam per malam. Mereka rata-rata hanya beristirahat 6,9 jam.

Baca juga : 9 Langkah Mudah untuk Lebih Produkti

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kurang tidur menyebabkan karyawan kehilangan produktivitas yang akhirnya membuat perekonomian AS rugi sekitar 411 juta dollar AS.

Pembenahan jam tidur membantu mencegah kondisi kronis seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, stroke dan stres, yang menyebabkan pengeluaran biaya kesehatan.

Pada 2016, University of California di San Diego melakukan studi dan menemukan bahwa orang yang waktu tidurnya meningkat, bahkan hanya satu jam per malam, mendongkrak lima persen gaji mereka.

Karyawan dari generasi Z dan milenial sadar bagaimana pentingnya istirahat, di mana waktu tidur mereka paling lama, yakni 7,4 jam dibanding generasi lain. Mereka yang berusia antara 45 dan 54 tahun hanya punya  waktu tidur sekitar 6,5 jam per malam.

Survei ini juga memperlihatkan bahwa pria lebih banyak tidur (7,1 jam) dibandingkan perempuan (6,8 jam). Adapun karyawan yang sudah menikah lebih banyak tidur (7,1 jam) dibandingkan yang lajang ( 6,7 jam).

Baca juga : 5 Cara Buat Hari Kerja Anda Lebih Produkti

Bagian dari masalah ini muncul ketika waktu bangun dan tidur kita berantakan.

"Teknologi membuat karyawan bisa bekerja dari jarak jauh dan jadwal kerja yang fleksibel, para karyawan diberi keleluasaan untuk masuk dan pulang kerja sefleksibel mungkin agar mengakomodasi kehidupan pribadi dan keluarga mereka," kata Carmel Galvin, Glasdoor Chief Human Resources Officer.

Namun, kata Galvin, kemajuan teknologi itu membuat batas antara mulai dan akhir kerja menjadi samar. Akibatnya, sebagian karyawan bekerja selama sepekan agar menjadi yang terbaik bagi mereka.

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi
Selain itu, banyak pekerja yang berdedikasi berusaha mendapatkan waktu istirahat untuk mengurus kesehatan mereka.

Time Off melaporkan bahwa 662 juta hari libur tidak digunakan setiap tahun. Banyak pekerja berpendapat bahwa mereka tak bisa pergi ke mana-mana atau khawatir kehilangan waktu kerja.

Glassdoor juga menemukan, tiga dari lima (61 persen) karyawan merasa lebih baik bekerja meski merasa sakit dibandingkan harus menggunakan jatah cuti—terutama para pekerja berusia antara 18–44 tahun (70 persen).

Kabar baiknya, para karyawan lebih mendukung untuk membiarkan karyawan lain mendapatkan waktu istirahat.

Glassdoor juga melaporkan bahwa tiga dari empat (74 persen) karyawan mengatakan bahwa manajer mereka mendorong agar mengambil waktu istirahat untuk mengurus kesehatan karyawannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber nypost.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.