Waspada Serangan Jantung, Ini Enam Gejalanya - Kompas.com

Waspada Serangan Jantung, Ini Enam Gejalanya

Kompas.com - 02/02/2018, 12:34 WIB
Ilustrasi nyeri dada, serangan jantungmichaeljung Ilustrasi nyeri dada, serangan jantung

KOMPAS.com - Bayangkan ini: seseorang yang terlihat segar bugar sedang berjalan kaki di taman.  Tiba-tiba ia sempotongan sambil memegang dada bagian kirinya. Apa yang terjadi?

Dengan mudah kita akan menebaknya sebagai serangan jantung. Namun itu kebanyakan hanya terjadi di televisi atau film.

Di kehidupan nyata, peristiwanya tidak selalu seperti itu. Serangan jantung memang bisa datang tanpa peringatan. Namun umumnya ada beberapa gejala yang bisa kita kenali.

"Kebanyakan pasien memiliki gejala dari serangan jantung. Tapi kadang, orang-orang mengabaikannya atau mengiranya sebagai penyakit lain," ujar James Park, M.D., FACC, Direktur Program Jantung dan Vaskuler di Texas Health, Dallas.

Mengenali gejalanya bisa menghindarkan kita dari serangan jantung sebelum terjadi dan bisa menyelamatkan hidup kita.

Berikut enam gejala serangan jantung dan apa yang harus dilakukan jika mengalaminya.

1. Lelah fisik

IlustrasiShutterstock Ilustrasi
Mengalami kelelahan fisik yang ekstrim merupakan salah satu gejala serangan jantung untuk perempuan. Meskipun belum ada studi yang mengatakan hal itu juga terjadi ada laki-laki.

Bila kamu merasa kelelahan saat menjalani rutinitas yang biasa dilakukan sehari-hari, atau merasa tidak mampu menjalankan berbagai tugas sekaligus, kamu harus mulai waspada.

Robert Segal, M.D., FAAC, Founder Manhattan Cardiology mengatakan, merasa sangat lelah di luar kebiasaan adalah sinyal lemahnya ventrikel bagian kiri, yakni otot jantung yang berfungsi memompa darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Jika ventrikel berhenti bekerja, jantung tidak dapat memompa secara maksimal. Inilah yang menimbukkan serangan jantung.

Dan jika Vventrikel kiri tidak memompa sekuat yang seharusnya, jantung kita mungkin tidak dapat mengedarkan cukup darah ke seluruh tubuh dengan baik.

Apa yang terjadi? Kelelahan. Bahkan setelah kita tidur. Sebab jaringan kita tidak mendapat cukup darah segar yang teroksigenkan.

Baca juga : Tak Cuma Nyeri Dada, Ini Ciri-ciri Lain Tanda Jantung Bermasalah

2. Gangguan ereksi

Disfungsi ereksisaiyood Disfungsi ereksi
Ereksi terjadi saat ada aliran darah ke penis, sehingga membuatnya tegang dan mengeras. Tapi, jika pembuluh darah tersebut rusak, maka aliran darah akan lebih sedikit.

Artinya, akan terjadi gangguan ereksi saat seorang laki-laki terangsang. Ini adalah sebab utama terjadinya disfungsi ereksi.

Problemnya adalah, jika pembuluh darah di bagian itu rusak, ada kemungkinan hal serua terjadi pada pembuluh darah yang dekat dengan jantung.

Penyebab terbesar kerusakan pembuluh darah tersebut adalah terbentuknya plak. Dr Segal mengatakan, bila itu terjadi pada pembuluh darah di jantung, maka bisa berakibat serangan jantung.

Jika gangguan ereksi terjadi satu kali mungkin bukan hal yang perlu ditakutkan. Bisa jadi itu karena stres atau lelah. Tapi jika terjadi berkali-kali, bisa jadi sebuah sinyal untuk sesuatu yang lebih serius.

Baca juga : 8 Hal Aneh Penyebab Disfungsi Ereksi

3. Kaki atau pinggul kram saat jalan

Ilustrasi kram kakigrinvalds Ilustrasi kram kaki
Kram atau kejang pada betis kita yang menjalar ke paha dan pinggul bisa menjadi sinyal dari sesuatu yang serius.

Ini sinyal dari penyakit arteri perifer, menyempitnya pembuluh arteri yang bisa membatasi aliran darah ke anggota badan, perut dan kepala.

Rasa tidak nyaman tersebut berasal dari berkurangnya aliran darah yang melewati kaki.

"Kebanyakan pasien mengatakan tidak bisa berjalan dengan jarak normal tapi dengan tidak adanya gejala. Mereka harus istirahat sebelum kembali berjalan," kata Dr. Park.

Mayo Clinic mengatakan, penyakit arteri perifer sama dengan penyakit arteri koroner, dimana plak terbentuk di sekitar pembuluh darah utama di jantung.

Sehingga plak tersebut mengakibatkan penyempitan pembuluh darah di bagian tubuh dan bisa terjadi juga pada pembuluh jantung.

Baca juga : Mencegah dan Mengatasi Kram Kaki Saat Berlari

4. Masalah pada dengkuran

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi
Mendengkur keras, terbangun sambil megap-megap mencari udara, atau merasa lelah saat tidur bisa jadi merupakan sinyal sleep apnea, penyakit tidur yang terjadi karena pernapasan yang terhenti sejenak.

Jika tidak diobati secara serius, maka bisa meningkatkan risiko serangan jantung.

Dr Segal menjelaskan, terhentinya pernafasan tersebut bisa membuat tubuh stres dan meningkatkan tekanan darah. Menyebabkan detak jantung tak beraturan dan meningkatnya risiko serangan jantung.

Baca juga : Sering Ngorok dan Mengantuk Saat Siang? Waspadai Sleep Apnea

5. Rasa sakit di perut

Ilustrasi sakit perut5432action Ilustrasi sakit perut
Terkadang rasa mual, masalah pencernaan atau rasa seperti sendawa yang tidak kunjung hilang bisa menjadi sinyal gangguan pada perut. Tapi, ini juga bisa menjadi sinyal adanya masalah pada jantung.

"Adanya sistem yang gamang kadang menjadi sinyal membingungkan yang terjadi pada tubuh kita" kata Dr. Park.

Syaraf pada bagian gastrointestinal atau sistem pencernaan berkaitan dengan syaraf di jantung.

Hasilnya, masalah yang terjadi di jantung bisa jadi diartikan sebagai ketidaknyamanan pada bagian perut.

Tapi, ada tanda-tanda bahwa sakit di perut tersebut adalah sesuatu yang serius. Biasanya, rasa mual yang dikarenakan potensi serangan jantung akan menjadi lebih parah saat melakukan gerakan fisik dan tiba-tiba terbangun dari istirahat.

Baca juga : Ini Rahasia Hidup Bebas Penyakit Jantung

6. Rasa kecemasan yang berlebih

Ilustrasi cemas dan takutKatarzynaBialasiewicz Ilustrasi cemas dan takut
Penemuan mengatakan bahwa orang yang mengalami kecemasan lebih mudah mengalami gangguan aliran darah ke jantung dibandingkan mereka yang tidak mengalami kecemasan.

Dr Segal mengatakan, kita sebaiknya memperhatikan lebih soal hubungan kecemasan dan risiko serangan jantung.

Sebab, ada pula gejala-gejala kecemasan yang menjadi gejala serangan jantung. Seperti sakit dada, nafas menyempit dan jantung berdebar.

Terlebih jika ini terjadi saat kita tidak dalam keadaan stres.

"Ini berpotensi menutupi permasalahan jantung pada sejumlah pasien dan membuat diagnosa dan perawatannya menjadi tertunda," kata Dr. Segal.

Kecemasan bisa memberikan ketegangan ekstra pada jantung. Sebab, perasaan cemas tersebut menakibatkan pembuluh darah mengerut dan meningkatkan detak jantung, yang bisa menjadi pemicu serangan jantung."

Apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala itu?

Walau harus diwaspadai, gejala-gejala di atas tidak selalu berarti jantung kita dalam keadaan yang berbahaya. Tapi ini bisa mengindikasikan bahwa gejala ini menjadi semakin parah.

Jadi, coba lah konsultasikan dengan dokter sedini mungkin.

Jika dokter mencurigai adanya kemungkinan serangan jantung, dia akan menyarankanmu untuk mengambil tes EKG (elektrokardiogram). Tes untuk mengukur aktivitas elektrik jantung dan menunjukkan jika ada masalah di jantung.

Bisa pula dokter menyarankan coronery angiogram yang bisa mendeteksi halangan di pembuluh arteri.

Coba lah berkonsultasi lebih lanjut jika mengalami tanda-tanda klasik dari serangan jantung. Seperti tekanan di bagian dada, nafas yang menyempit, pusing, keringat dingin, atau ketidaknyamanan pada lengan, leher atau rahang.

Baca juga : Serangan Jantung Bisa Terjadi Saat Tidur! Ketahui 5 Gejalanya


EditorWisnubrata

Terkini Lainnya


Close Ads X