Kompas.com - 02/02/2018, 16:02 WIB
Pemeriksaan mamografi gratis untuk wartawan dari Yayasan Kanker Payudara Indonesia di Jakarta (2/2). Kompas.com/Lusia Kus AnnaPemeriksaan mamografi gratis untuk wartawan dari Yayasan Kanker Payudara Indonesia di Jakarta (2/2).
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Kanker payudara saat ini menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak di Indonesia. Angka harapan hidup pasien sebenarnya tinggi jika kankernya ditemukan sejak stadium dini.

Ada beberapa cara mendeteksi kanker, misalnya saja pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) yang dilakukan sebulan sekali, serta pemeriksaan oleh tenaga medis dengan bantuan alat seperti mamografi, ultrasonografi, dan MRI (magnetic resonance imaging).

Dari ketiga alat tersebut, yang sudah menjadi standar adalah USG dan mamografi yang dilakukan setahun sekali.

Menurut dr.Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais, wanita yang beresiko tinggi terkena kanker payudara adalah mereka yang haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih dari 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, memakai kontrasepsi hormonal, serta terlambat menopause di usia lebih dari 50 tahun.

"Mereka ini disarankan rutin melakukan deteksi dini, termasuk yang pernah ada riwayat tumor jinak payudara," jelas Martha dalam acara pemeriksaan mamografi gratis dari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) untuk wartawan yang difasilitasi oleh Forum Ngobras di Jakarta, Jumat (2/2).

Martha menjelaskan, masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara.

Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketua YKPI, Linda Gumelar menjelaskan YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak memiliki unit mammografi keliling tahun 2005 dengan bus kecil. Sejak 2015 unit mammografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru. Bus mammografi setiap minggu keliling ke Puskesmas-puskemas  di seluruh Jakarta, bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais.

Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2 persen hasil yang dicurigai tumor ganas dan 14,8 persen yang dicurigai tumor jinak.

Tahun 2017 lebih banyak lagi yang diperiksa mencapai 3.160 pasien. Peningkatan jumlah peserta, menurut Linda, karena permintaan Kemenkes yang tengah gencar mensosialisasikan program Germas. Hasil sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4 persen yang dicurigai tumor ganas.

"Meskipun hanya 1,4 persen yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara," tegas Linda.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.