Menyatukan Masyarakat Dunia Lewat Festival Gamelan Internasional

Kompas.com - 10/08/2018, 13:52 WIB
Pembukaan International Gamelan Festival 2018Ariska Anggraini Pembukaan International Gamelan Festival 2018

SOLO, KOMPAS.com - Upacara pembukaan International Gamelan Festival yang pertama kali berlangsung di Benteng Vastenburg, Solo, pada Kamis (9/8/2018).

Momen Internasional tersebut dibuka dengan lantunan gendhing Puspowarno, yang pada tahun 1977 pernah dibawa ke ruang angkasa oleh NASA dengan pesawat voyager.

Direktur Festival Gamelan Internasional (IGF) 2018, Rahayu Supanggah, menyampaikan gamelan merupakan sistem musik yang telah mencapai penyebaran secara geografis.

"Gamelan telah berinteraksi dengan lingkungan setempat, mengalami penyesuaian dan melahirkan variasi dari sisi bentuk dan komposisinya,"  kata dia dalam pidato sambutan.

Baca juga: Solo Terpilih Jadi Kota Pertama Festival Gamelan Internasional

Selama ini, gamelan identik dengan musik khas Jawa.

Namun, acara ini telah menjadi bukti bahwa gamelan merupakan sistem musik yang telah menembus ruang dan waktu, serta menjadi pemersatu masyarakat dunia.

Taufik Adam, salah satu komposer yang meramaikan upacara pembukaan IGF 2018 juga sependapat hal ini.

Pria yang telah melanglang buana di dunia musik internasional ini mengatakan, gamelan bukan hanya milik masyarakat Jawa. Tapi, sudah menjadi milik masyarakat dunia.

Baca juga: Solo Terpilih Jadi Kota Pertama Festival Gamelan Internasional

Oleh karena itu, dalam karyanya kali ini ia mengolaborasikan berbagai etnik dari Indonesia agar lebih dikenal dunia.

"Saya akan membawakan kolaborasi dari beberapa etnik. Ada paduan suara dari NTT yang dikombinasikan dengan etnik dari Makasar, Batang, Minang dan Aceh," papar dia.

Gamelan, bagi pria asal Padang Pajang, Sumatra Barat ini, bukan sekadar musik biasa.

"Gamelan itu bagi saya sudah tak bisa dieksplor lagi. Semua yang ada di dalam gamelan sudah unik," tambah pria berusia 43 tahun ini.

Halaman:



Close Ads X