Tas Mewah yang Dibuat dari Kulit Bekas Tempat Duduk Kereta - Kompas.com

Tas Mewah yang Dibuat dari Kulit Bekas Tempat Duduk Kereta

Kompas.com - 10/12/2018, 06:12 WIB
Tas berbahan sarung bekas tempat duduk kereta dari koleksi Amtrak yang berkolaborasi dengan People for Urban ProgressPUP x Amtrak Tas berbahan sarung bekas tempat duduk kereta dari koleksi Amtrak yang berkolaborasi dengan People for Urban Progress

KOMPAS.com - Ada ragam bahan yang digunakan untuk membuat tas-tas mewah. Hampir rata-rata bahan tersebut dibuat dari bahan premium dan kelas teratas.

Nah, bagaimana jika bahan yang dipakai justru bekas?

Adalah Amtrak, yang berkolaborasi dengan People for Urban Progress, lembaga nirlaba berbasis di Indianapolis yang mengkhususkan diri dalam pengembangan produk daur ulang, berkreasi dengan bahan-bahan bekas. 

Ada pun Amtrak merupakan perusahaan kereta api asal Amerika Serikat.

Dilansir dari New York Post, kolaborasi tersebut mengkreasikan 6.080 sarung tempat duduk bekas dari kereta Acela Express yang tak lagi dipakai. Bahan-bahan tersebut disulap menjadi tas mewah.

Tercatat, ada 2.500 unit yang tengah diproduksi dan siap dirilis tahun 2019 mendatang. 

Batch kedua dari kolaborasi yang diluncurkan pada Senin, seperti weekender “Conductor”, dihargai 453 dollar AS, backpack “Agent” seharga 385 dollar AS, tote “Passenger” seharga 185 dollar AS dan dopp kit “Dispatcher” seharga 75 dollar AS.

Desain dari bahan tas tersebut tergolong unik, karena ada bekas lubang kecil, permukaan kulit yang berbeda-beda, dan noda bekas tempat duduk.

Proyek transformatif ini hadir setelah Amtrak mulai memperbarui interior kereta api di jalur Boston-Washington DC.

Ada pun koleksi ini merupakan upaya oleh kedua perusahaan untuk menghentikan infrastruktur berkualitas yang dibuang sia-sia ke tempat pembuangan sampah.

“Ini adalah kesempatan menarik untuk memamerkan pekerjaan yang kami lakukan untuk mendaur ulang limbah dan menciptakan perubahan melalui menciptakan sebuah produk kembali,” kata Andrea Cowley, direktur eksekutif People for Urban Progress.


Terkini Lainnya


Close Ads X