DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Keamanan Pangan dan Ketahanan Pangan: Di Dunia Manakah Kita?

Kompas.com - 23/12/2018, 08:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Untuk menuju ke sana, Indonesia harus melakoni 8 upaya besar: peningkatan pendapatan per kapita, peningkatan kualitas pendidikan bermutu, penguasaan IPTEK, peningkatan kualitas ekonomi, pemberantasan korupsi, peningkatan pembangunan transportasi dan infrastruktur, peningkatan stabilitas politik, dan jaminan pelayanan kesehatan.

Baca juga: Gempa Lombok: Bukan Sekadar Retaknya Jalanan dan Runtuhnya Rumah

Delapan upaya itu tidak bisa diciptakan seperti legenda Sangkuriang, dalam semalam perahu beserta telaga bisa langsung jadi. Delapan upaya tersebut pun bukan target tanpa gegar budaya.

Penguasaan IPTEK yang akhirnya hanya membuat rakyat mampu mengakses dunia maya, tapi akhirnya hanya jadi sarana sebar menyebar berita bohong, justru menjadi sabotase besar.

Pendapatan per kapita yang menanjak akibat transaksi konsumtif tentu bernilai beda dibandingkan dengan peningkatan pendapatan karena produk inovatif.

Jaminan pelayanan kesehatan yang hanya menampung korban penyakit, akhirnya jatuh bangkrut karena upaya pencegahan penyakit selalu gagal.

World Bank menilai Malaysia akan mampu beranjak menjadi negara maju di tahun 2020. Sementara Indonesia diandaikan baru bisa menyamai di tahun 2042, itu pun dengan catatan: apabila rapor merah di sana-sini berhasil diperbaiki bukan dengan sulapan, namun dibutuhkan kerja keras dan niat baik semua pihak untuk membangun dengan visi yang sama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Kurus, Gizi Buruk, Stunting: Wajah Ngeri Anak Indonesia

Seperti anak yang sedang dilatih membuat pekerjaan rumah dan menyelesaikan tugas sekolah, maka orangtua perlu mengambil kebijakan yang suportif: dengan mengendalikan jam menonton TV, mengatur waktu bermain, dan sementara mengunci penggunaan berbagai macam gawai permainan.

Analogi yang sama, bila kita sungguh-sungguh ingin menjadi negara maju, yang inovatif bukan konsumtif, yang menggunakan IPTEK untuk karya bukan sekadar menembus medsos menebar riya.

Yang memberdayakan kesehatan publik bukan sekadar bagi-bagi sarana berobat gratis, maka kita bersama perlu mengambil kebijakan yang suportif: mengendalikan promosi berlebihan produk industri yang hanya menyasar pada peningkatan pendapatan pribadi, mengatur label dan iklan pangan, dan mengunci berbagai macam sumber informasi yang menyesatkan publik.

Baca juga: Pangan ?Ultra-Proses?: Sukses Ekonomi Berbuah Kematian Dini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.