Kompas.com - 25/04/2019, 08:48 WIB
Proses pembuatan sepatu Junkard. Dok JUNKARDProses pembuatan sepatu Junkard.

Memasuki tahun 2011, ia mendapatkan kabar mengejutkan.

Bisnis sang ayah sebagai kontraktor, bangkrut dan meninggalkan utang Rp 2 miliar.

Tak ingin menjadi beban orangtua, ia berniat untuk putus kuliah, namun dilarang sang ibu.

Akhirnya, ia mengambil cuti kuliah selama 1,5 tahun sambil mengumpulkan uang untuk membayar kuliah.

“Sesekali saya menerima bantuan dana dari dua kakak saya,” imbuhnya.

Saat itu,  dia juga mengirimkan proposal ke premium store. Proposalnya diterima dan mereka bekerjasama dengan sistem consignment.

Tangguh langsung membangun bengkel dengan empat karyawan.

Ia pun ikut belajar membuat sepatu, dari mulai narik, pasang sol, dan lainnya. Namun ia tidak belajar sampai mahir, sebab fokusnya adalah pengembangan desain.

Memasuki tahun 2013, ia kembali dilanda kegalauan. Tangguh mengaku bingung mau dibawa ke mana sepatu kreasinya.

Baca juga: Sagara, Melawan Bot “Asing” di Pasar Dunia dengan Nama Lokal...

Sebab selama itu, ia mengerjakan berbagai jenis sepatu, mulai dari sneaker, slip on, dan lainnya, dengan harga yang beragam dari Rp 300.000-700.000.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X