Remaja Berusia 17 Tahun Buta akibat Terlalu Sering Makan Junk Food

Kompas.com - 10/09/2019, 22:04 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

"Dia enggan mengonsumsi tekstur makanan tertentu dan benar-benar tidak bisa mentolerirnya," kata Dr. Denize Atan, penulis utama dan konsultan senior dosen bidang oftalmologi di Bristol Medical School dan Rumah Sakit Mata Bristol.

"Kentang goreng dan keripik adalah satu-satunya jenis makanan yang dia inginkan dan dirasanya bisa dimakan," imbuhnya.

Remaja tersebut didiagnosis dengan neuropati optik gizi, kerusakan saraf optik akibat kekurangan gizi.

Gangguan ini juga dapat disebabkan oleh obat-obatan, penyalahgunaan alkohol, malabsorpsi makanan atau pola makan yang buruk.

Baca juga: 4 Tahap Jitu Melawan Godaan Makan Junk Food

Para penulis mengatakan, pola makan seperti itu sebenarnya jarang terjadi di negara maju.

Menurut Universitas Iowa, vitamin seperti vitamin B kompleks sangat penting untuk respirasi sel.

Tanpa vitamin ini dalam tubuh, dapat menyebabkan produk sampingan metabolisme menumpuk dan akhirnya merusak sel-sel saraf.

Sebenarnya ada kemungkinan untuk sembuh pada kehilangan penglihatan karena neuropati optik, namun, kebutaan pada remaja tersebut sudah permanen ketika ia didiagnosis.

"Penglihatannya sangat terganggu, sehingga sudah tidak dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata," ujar Atan.

Saat ini, remaja itu diberikan suplemen gizi untuk mencegah masalah lebih lanjut dengan penglihatannya dan dirujuk ke layanan kesehatan mental untuk gangguan makannya.

Baca juga: Yang Terjadi Pada Tubuh saat Berhenti Konsumsi Junk Food

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X